TREN.BISNISMARKET.COM - Dikutip dari sumber terpercaya, pelemahan rupiah terhadap dolar AS telah memicu kenaikan harga elektronik nasional. Nilai tukar rupiah yang melemah hingga Rp 17.529 per dolar AS pada Rabu (13/5/2026) telah membuat industri elektronik nasional menghadapi tantangan dalam menjaga daya beli konsumen.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Komoditi Elektronik Indonesia (Apkonik), Deny Irawan, menyatakan bahwa "sebagian besar komponen elektronik yang digunakan industri dalam negeri, seperti semikonduktor, IC, panel display, sensor, kapasitor, hingga beberapa bahan baku manufaktur masih bergantung pada impor" ujar Deny Irawan, Ketua Umum Apkonik.
Penyesuaian harga di tingkat konsumen tidak selalu bersifat instan karena produsen berupaya menjaga daya beli melalui strategi efisiensi. Namun, stok barang lama yang terbatas membuat kenaikan harga sulit dihindari dalam jangka panjang. "Banyak pelaku industri masih memiliki stok impor dengan kurs lama, sehingga kenaikan harga biasanya tertahan sementara. Produsen juga berupaya melakukan efisiensi agar kenaikan biaya tidak seluruhnya dibebankan kepada konsumen" kata Deny Irawan, Ketua Umum Apkonik.
Dampak pelemahan rupiah terhadap industri elektronik nasional telah membuat kenaikan harga produk elektronik di sentra perdagangan Jakarta. Harga produk seperti televisi dan AC dilaporkan sudah naik sekitar 2 persen sampai 5 persen. Kenaikan ini terutama dipicu oleh membengkaknya biaya impor komponen dan barang jadi yang masih menggunakan dolar AS.
Fenomena ini turut memicu penurunan volume penjualan di sejumlah titik ritel karena kecepatan perubahan harga. Beberapa pedagang melaporkan adanya penurunan omzet yang cukup signifikan dibandingkan periode bulan sebelumnya. "Beberapa pedagang menyampaikan bahwa konsumen mulai menunda pembelian karena harga berubah cukup cepat dibanding bulan sebelumnya. Bahkan ada laporan penurunan penjualan ritel hingga sekitar 50 persen di beberapa titik perdagangan elektronik" kata Deny Irawan, Ketua Umum Apkonik.
Sebagai solusi jangka panjang, pihak asosiasi menekankan pentingnya pendalaman struktur industri di dalam negeri. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir kerentanan industri terhadap fluktuasi mata uang asing. "Dari sisi asosiasi, kami mendorong penguatan industri komponen dalam negeri dan peningkatan TKDN agar industri elektronik Indonesia tidak terlalu rentan terhadap gejolak kurs global di masa mendatang" tegas Deny Irawan, Ketua Umum Apkonik.
Di pusat elektronik Pasar Glodok, para pedagang mengonfirmasi adanya kenaikan harga fisik pada unit-unit yang dijual. Seorang penjual bernama Tio menyebutkan kenaikan harga AC tipe 1 PK kini mencapai ratusan ribu rupiah. "Harga AC, terutama tipe 1 PK, sudah naik sekitar Rp 225.000. Contohnya AC merek 'S' Low Watt yang sebelumnya dijual sekitar Rp 2,9 juta, kini naik menjadi sekitar Rp 3,12 juta hingga Rp 3,2 juta" ujar Tio, Penjual.
Kondisi serupa juga terjadi pada kategori produk hiburan seperti televisi. Ryan, seorang penjual TV di lokasi yang sama, melaporkan bahwa kenaikan harga bervariasi tergantung pada model dan spesifikasi perangkat. "Harga TV saat ini sudah naik sekitar 2 persen hingga 5 persen bulan Mei ini berkisar Rp 20.000 hingga Rp 50.000 untuk beberapa model, bahkan ada produk yang mengalami kenaikan signifikan hingga Rp 400.000 sampai Rp 450.000" ujar Ryan, Penjual.
Dikutip dari sumber terpercaya, kenaikan biaya energi akibat fluktuasi harga minyak dunia dan kenaikan BBM non-subsidi turut mendorong inflasi biaya produksi. Hambatan logistik akibat ketegangan geopolitik global di jalur perdagangan internasional juga menjadi pemicu kenaikan ongkos distribusi barang elektronik.