TREN.BISNISMARKET.COM - Harga minyak mentah global menunjukkan sedikit peningkatan pada sesi perdagangan Rabu pagi, 17 Juni 2026, setelah mengalami tekanan jual yang signifikan selama dua hari sebelumnya. Kenaikan ini terjadi karena pasar sedang mencermati apakah kesepakatan perdamaian yang dicapai antara Amerika Serikat dan Iran akan mampu bertahan lama di tengah ketidakpastian geopolitik.

Menurut data yang dihimpun Refinitiv pada pukul 08.20 WIB, harga minyak jenis Brent berhasil menyentuh level US$79,23 per barel. Angka ini tercatat sedikit lebih tinggi dibandingkan penutupan sesi sebelumnya yang berada di posisi US$78,96 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mengikuti tren kenaikan moderat, diperdagangkan pada US$76,27 per barel. Harga WTI tersebut lebih tinggi dari posisi penutupan hari sebelumnya yang tercatat di angka US$76,05 per barel.

Meskipun terjadi kenaikan pada pagi hari ini, secara tren mingguan, harga minyak masih berada di bawah tekanan koreksi yang cukup besar. Minyak Brent telah terdepresiasi dari US$94,25 per barel pada tanggal 8 Juni menjadi US$79,23 per barel hari ini, mencatatkan penurunan sekitar 15,9% dalam periode tersebut.

Koreksi nilai yang lebih tajam terlihat pada WTI, yang tergelincir dari US$91,30 per barel menjadi US$76,27 per barel, atau mengalami koreksi sekitar 16,5%. Penurunan tajam ini dipicu oleh antisipasi pasar mengenai meredanya potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Fokus utama investor saat ini tetap tertuju pada perkembangan terakhir mengenai konflik Iran serta prospek dibukanya kembali jalur pelayaran vital Selat Hormuz. Dilansir dari Reuters, harga minyak sempat anjlok hingga 5% dalam dua sesi perdagangan beruntun menyusul adanya harapan bahwa kesepakatan antara Washington dan Teheran akan memulihkan lalu lintas energi melalui selat tersebut.

Selat Hormuz merupakan jalur krusial yang dilalui oleh sekitar seperlima dari total perdagangan minyak global, sehingga setiap hambatan di area tersebut selalu meningkatkan premi risiko secara signifikan di pasar energi internasional. Informasi awal mengenai rincian kesepakatan tersebut mulai terungkap pada Selasa waktu setempat, di mana Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan bahwa perjanjian tersebut bertujuan untuk memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.

Seorang pejabat Amerika Serikat juga mengonfirmasi bahwa Iran akan diberikan izin untuk kembali menjual minyaknya setelah kesepakatan final ditandatangani. Nota kesepahaman ini secara efektif memperpanjang gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan pada bulan April selama 60 hari tambahan, memberikan ruang untuk negosiasi menuju perdamaian permanen.

Dalam kerangka kesepakatan tersebut, Amerika Serikat menyetujui pencabutan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Sebagai imbalannya, Teheran berkomitmen untuk membuka kembali lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, yang sebelumnya terganggu sejak serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari. Harapan terhadap normalisasi ini menjadi pendorong utama aksi jual besar-besaran di pasar minyak sepanjang pekan lalu hingga awal minggu ini.