TREN.BISNISMARKET.COM - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax mulai menimbulkan dampak signifikan terhadap biaya transportasi harian masyarakat perkotaan. Hal ini berpotensi memaksa kelompok kelas menengah untuk mengevaluasi kembali pilihan moda transportasi yang selama ini mereka gunakan.
Tekanan finansial ini semakin diperparah dengan adanya wacana pemerintah untuk melakukan penyesuaian terhadap tarif layanan Transjakarta, yang selama ini relatif stabil. Kombinasi kedua faktor tersebut diperkirakan akan semakin mempersempit ruang gerak rumah tangga dalam mengatur alokasi anggaran transportasi mereka.
Menurut Ketua Forum Transportasi Jalan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Pangestu B. Darmo, setiap kebijakan baru terkait transportasi dipastikan akan memengaruhi perilaku perjalanan masyarakat di perkotaan. Perubahan biaya BBM nonsubsidi ini secara langsung meningkatkan beban biaya mobilitas kelompok menengah yang kemudian mendorong mereka untuk menghitung ulang moda transportasi yang paling ekonomis.
Dilansir dari Bisnis.com, PT Pertamina (Persero) telah mengambil langkah menaikkan harga Pertamax (RON 92) dari semula Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Selain itu, harga Pertamax Green 95 (RON 95) juga mengalami kenaikan dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Pangestu menilai kenaikan harga ini seharusnya mendorong sebagian pengguna kendaraan pribadi untuk beralih ke transportasi umum, seperti Transjakarta, sebagai alternatif yang lebih murah. Namun, peralihan signifikan tersebut diperkirakan masih terhambat oleh cakupan layanan transportasi massal yang belum menjangkau seluruh pusat kegiatan ekonomi dan kawasan permukiman secara memadai.
"Dengan kondisi ini, secara umum belum tentu kenaikan Pertamax akan membuat masyarakat berpindah ke transportasi umum atau Transjakarta secara signifikan," ujarnya pada Kamis (11/6/2026).
Akibat keterbatasan akses transportasi umum yang merata, sebagian masyarakat diperkirakan tetap akan bergantung pada kendaraan pribadi mereka untuk mobilitas sehari-hari. Dalam skenario ini, ada kemungkinan pengguna Pertamax akan memilih untuk beralih ke Pertalite demi menekan biaya operasional kendaraan.
"Jika terjadi dalam skala besar, pergeseran konsumsi ini dapat meningkatkan penggunaan BBM bersubsidi oleh kelompok masyarakat yang bukan menjadi sasaran utama program subsidi energi," tambah Pangestu.
Selain beralih jenis BBM, kenaikan harga Pertamax juga dapat mendorong pemilik mobil untuk kembali menggunakan sepeda motor yang dianggap lebih hemat bahan bakar. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan mengingat populasi sepeda motor di Indonesia sudah mendominasi lalu lintas nasional.