TREN.BISNISMARKET.COM - Holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di sektor jasa survei menargetkan peningkatan layanan jaminan kualitas atau assurance di sektor energi. Langkah ini diambil seiring dengan makin kompleksnya tantangan dalam menjaga ketahanan energi nasional saat ini.

Salah satu fokus utama mereka adalah mendukung implementasi program pemerintah, seperti program Biodiesel B40, yang memerlukan verifikasi dan pengawasan ketat. Hal ini bertujuan memastikan bahwa setiap tahapan program berjalan sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Vice President Divisi Bisnis Strategis Oil, Gas, and Renewable Energy PT Surveyor Indonesia, Mahfud Arifin, menjelaskan bahwa ketahanan energi saat ini tidak hanya bergantung pada ketersediaan pasokan bahan bakar. Sektor ini juga membutuhkan sistem pendukung yang mampu menjamin kualitas dan keamanan energi secara konsisten.

Menurut pandangan Mahfud, permintaan akan layanan assurance terus meningkat seiring dengan meningkatnya kompleksitas dalam industri energi. Oleh karena itu, keandalan sistem pendukung menjadi sama pentingnya dengan kuantitas pasokan energi yang tersedia.

"Hal ini sejalan dengan berbagai program strategis pemerintah di sektor energi. Implementasi biodiesel B40, pengembangan energi baru dan terbarukan [EBT], ekosistem kendaraan listrik, hingga perdagangan karbon membutuhkan sistem verifikasi yang kuat agar seluruh proses berjalan sesuai standar," ujar Mahfud Arifin dalam keterangan tertulis pada Kamis (18/6/2026).

Mahfud Arifin juga menyoroti bahwa kebutuhan layanan assurance ini tidak hanya terjadi di lingkup domestik, tetapi juga merupakan tren global. Industri Testing, Inspection, and Certification (TIC) kini menjadi pilar penting dalam mendukung upaya transisi energi di seluruh dunia.

Perkembangan layanan kini meluas melampaui pengujian konvensional, mencakup pemanfaatan data digital, pemeliharaan prediktif (predictive maintenance), serta verifikasi aspek Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (Environmental, Social, and Governance/ESG), termasuk carbon assurance.

"Jika sebelumnya layanan inspeksi dan sertifikasi lebih banyak berfokus pada pengujian konvensional, saat ini cakupannya meluas ke pemanfaatan data digital, predictive maintenance, verifikasi aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), hingga carbon assurance," tambah Mahfud.

Perubahan paradigma ini menunjukkan bahwa tantangan energi modern kini bergeser dari sekadar bagaimana energi diproduksi, menjadi bagaimana kualitas, keamanan, dan keandalannya dapat dijaga secara berkelanjutan.