TREN.BISNISMARKET.COM - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyatakan keprihatinan mendalam atas kesepakatan asumsi makro dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 antara pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI). Indef berpandangan bahwa asumsi yang disepakati tersebut terlalu optimistis, yang dikhawatirkan dapat mengakibatkan pelebaran defisit anggaran dan memberikan tekanan tambahan pada kredibilitas fiskal Indonesia.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, menyoroti asumsi rentang pertumbuhan ekonomi untuk tahun depan yang dipatok antara 5,8% hingga 6,5%. Menurutnya, angka ini berada di atas tren pertumbuhan aktual Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Dilansir dari Bisnis.com, Rizal menyampaikan bahwa meskipun ekonomi sempat menunjukkan pertumbuhan 5,61% pada kuartal I/2026, daya dorongnya belum sepenuhnya kuat. Hal ini disebabkan oleh masih adanya tekanan yang dihadapi oleh konsumsi rumah tangga, investasi, ekspor, serta sektor industri manufaktur.
Selain isu pertumbuhan, Rizal juga mengkritisi asumsi nilai tukar rupiah yang ditetapkan dalam rentang Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS. Ia menilai penetapan nilai tukar tersebut relatif optimistis mengingat kondisi tekanan rupiah yang masih tinggi dan potensi tekanan pada neraca perdagangan.
Rizal menekankan bahwa asumsi nilai tukar tersebut baru akan dianggap kredibel jika pemerintah mampu menjaga stabilitas harga secara konsisten. Stabilitas tersebut juga harus didukung oleh upaya penguatan kinerja ekspor, penekanan impor energi, dan pemeliharaan kepercayaan pasar.
Mengenai asumsi inflasi, Indef memandang rentang 1,5% hingga 3,5% masih tergolong realistis. Walaupun demikian, Rizal mengingatkan adanya risiko signifikan yang mungkin timbul dari gejolak harga pangan dan energi, pelemahan kurs mata uang, serta potensi pembengkakan biaya logistik.
Pengajar di Universitas Trilogi Jakarta ini memperingatkan bahwa penetapan asumsi makro yang terlalu ambisius dan tidak mencerminkan realitas dapat membawa konsekuensi serius pada postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Jika asumsi terlalu tinggi maka postur anggaran negara berisiko terjebak pada bias optimistis di mana target penerimaan dipatok terlalu tinggi, sementara belanja menjadi terlalu ekspansif," ujar Rizal.
Rizal menjelaskan dampak lanjutan jika realisasi ekonomi tidak sesuai target, yaitu defisit anggaran dan kebutuhan pembiayaan berpotensi melebar. Kondisi ini dapat menekan kredibilitas fiskal, menaikkan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), memperbesar beban bunga utang, dan menambah tekanan pada nilai tukar rupiah.