TREN.BISNISMARKET.COM - Kondisi geopolitik global yang bergejolak, ditambah dengan adanya krisis pangan dan disrupsi rantai pasok, telah menegaskan bahwa ketahanan ekonomi nasional tidak boleh lagi bergantung pada ekspor bahan mentah. Negara yang mampu bertahan dalam kondisi ketidakpastian adalah mereka yang memiliki struktur ekonomi domestik yang produktif, terdiversifikasi, dan mampu mengolah sumber daya lokal menjadi produk bernilai tambah tinggi.

Hilirisasi sumber daya alam terbarukan, khususnya di sektor kelautan dan perikanan, kini menjadi agenda strategis yang mendesak bagi Indonesia. Proses ini bukan sekadar membangun fasilitas pengolahan, melainkan sebuah jalan untuk transformasi struktural fundamental. Tujuannya adalah memastikan nilai tambah sumber daya alam tidak lari ke luar negeri, melainkan tumbuh melalui penguatan industri, kegiatan riset, penciptaan lapangan kerja, dan pemerataan ekonomi daerah.

Data menunjukkan urgensi agenda ini semakin kuat, di mana PDB lapangan usaha perikanan atas dasar harga berlaku pada 2025 tercatat sekitar Rp610,75 triliun menurut Badan Pusat Statistik. Angka ini menggarisbawahi peran besar sektor perikanan sebagai penopang penting perekonomian nasional.

Sementara itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat bahwa nilai ekspor produk perikanan Indonesia selama Januari hingga Desember 2025 mencapai US$6,27 miliar, menandai peningkatan sebesar 5,2% dibanding tahun sebelumnya. Bahkan, neraca perdagangan produk perikanan masih mencatatkan surplus signifikan sebesar US$5,60 miliar.

Meskipun demikian, capaian tersebut belum sepenuhnya merefleksikan potensi besar yang dimiliki Indonesia, terutama dari potensi lestari sumber daya ikan yang mencapai 12,01 juta ton per tahun, dengan jumlah tangkapan yang diperbolehkan sebesar 8,6 juta ton per tahun berdasarkan Kepmen KP Nomor 19 Tahun 2022.

Di sektor budidaya, rumput laut menunjukkan peluang hilirisasi yang substansial, dengan produksi nasional mencapai 10,80 juta ton pada 2024, naik 10,82% menurut KKP. Potensi lahan budidaya rumput laut masih sangat terbuka karena pemanfaatan lahan potensial baru mencapai sekitar 11,65%.

Tren global juga mengarah pada penguatan akuakultur, di mana FAO mencatat produksi perikanan dan akuakultur dunia mencapai 223,2 juta ton pada 2022. "Untuk pertama kalinya, akuakultur melampaui perikanan tangkap sebagai sumber utama produksi hewan akuatik dunia," bunyi kutipan dari FAO The State of World Fisheries and Aquaculture 2024.

Dilansir dari Bisnis.com, data awal 2026 menunjukkan nilai ekspor produk perikanan hingga 13 Maret 2026 mencapai US$983,1 juta atau setara Rp16,7 triliun, meskipun volumenya menurun akibat tekanan logistik dan dinamika geopolitik. Fakta ini menekankan bahwa kekuatan ekspor harus diimbangi dengan penguatan industri hilir, pasar domestik, dan sistem logistik nasional yang andal.

Permasalahan klasik yang dihadapi Indonesia adalah potensi besar namun realisasi nilai tambahnya belum optimal, di mana banyak produk laut masih dijual dalam bentuk ikan segar, beku, atau bahan mentah. Padahal, nilai tambah yang tinggi dapat dicapai melalui produk turunan seperti surimi, minyak ikan, kolagen, hingga bioplastik berbasis rumput laut.