TREN.BISNISMARKET.COM - Pemerintah Indonesia tengah memulai langkah strategis dalam mempersiapkan fondasi teknologi telekomunikasi masa depan. Diskusi mengenai kebutuhan spektrum frekuensi untuk generasi keenam jaringan seluler, atau 6G, telah dibuka meskipun pengembangan 5G baru saja menunjukkan kemajuan signifikan.
Langkah ini diambil mengingat proyeksi kebutuhan spektrum yang akan meningkat drastis seiring perkembangan teknologi. Frekuensi yang tersedia saat ini diprediksi tidak akan mencukupi untuk memenuhi tuntutan layanan 6G yang lebih canggih.
"Kita harus merilis frekuensi baru. Mengandalkan frekuensi yang ada saat ini tidak akan cukup," ujar Adis dalam sebuah diskusi panel bersama Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) di Jakarta.
Menurut perkiraan, operator telekomunikasi akan membutuhkan setidaknya 200 MHz spektrum frekuensi untuk dapat mengoperasikan layanan 6G secara optimal. Kebutuhan ini sedikit melampaui blok frekuensi terbesar yang diperkirakan tersedia dalam lelang mendatang, yaitu sekitar 190 MHz.
Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia perlu mencari solusi alokasi spektrum baru untuk menampung kebutuhan 6G. Pita frekuensi upper 6 GHz kini menjadi salah satu kandidat utama yang dipertimbangkan untuk layanan 6G di masa depan.
Pembahasan lebih mendalam mengenai pemanfaatan pita frekuensi ini dijadwalkan akan berlangsung dalam forum internasional, World Radiocommunication Conference (WRC) 2027. Forum yang diselenggarakan oleh International Telecommunication Union (ITU) ini akan menjadi penentu arah regulasi spektrum global.
"Kami berharap mendapatkan berbagai pandangan dan masukan untuk menjadi bahan pertimbangan kami, terutama terkait nilai publik yang dihasilkannya," kata Adis.
Kesiapan Indonesia dalam menghadapi teknologi 6G ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang. Meskipun pemanfaatan 5G di beberapa wilayah masih terus diperluas, pemerintah berupaya memastikan negara tidak tertinggal saat teknologi 6G mulai diadopsi secara global pada dekade berikutnya.
Langkah serupa juga diambil oleh banyak negara lain yang masih fokus pada pengembangan 5G, namun secara paralel telah memulai riset dan diskusi terkait 6G. Kebutuhan spektrum yang besar ini didorong oleh potensi 6G yang tidak hanya menawarkan kecepatan internet super tinggi, tetapi juga mendukung layanan berbasis kecerdasan buatan (AI), komunikasi real-time, dan integrasi teknologi imersif.