TREN.BISNISMARKET.COM - Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengeluarkan instruksi tegas kepada Kementerian Pertanian dan Perum Bulog mengenai kebijakan harga ekspor beras nasional. Instruksi ini bertujuan utama untuk menjaga stabilitas harga komoditas pangan di dalam negeri sekaligus melindungi kesejahteraan petani lokal.
Arahan penting ini disampaikan oleh Presiden Prabowo pada momentum peresmian 1.062 Koperasi Desa Merah Putih yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 16 Mei 2026. Dalam acara tersebut, Presiden menekankan pentingnya penetapan harga ekspor yang menguntungkan sektor hulu pertanian Indonesia.
Langkah protektif ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya permintaan beras dari negara-negara tetangga di tengah situasi geopolitik global yang tidak menentu. Presiden Prabowo menilai bahwa ketahanan pangan adalah kunci utama keberlangsungan bangsa dalam menghadapi ketidakpastian internasional.
"Survival bangsa bukan sekedar lebih murah di mana tapi ada atau tidak, dan akhirnya sejarah, takdir, dan kenyataan membuktikan bahwa karena kita sudah lebih dulu aman soal pangan, krisis apapun di luar negara kita relatif lebih aman," kata Presiden Prabowo.
Presiden menjelaskan bahwa kekhawatiran muncul karena beberapa negara produsen pangan utama mulai menerapkan kebijakan proteksionis dengan menutup akses ekspor mereka. Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah pengamanan pasokan pangan internal negara masing-masing.
Bahkan, menurutnya, negara-negara yang sebelumnya dianggap lebih unggul kini mulai menjalin komunikasi untuk meminta pasokan beras dari Indonesia. "Sekarang banyak negara minta beli beras dari kita, minta beli beras dari kita. Tetangga-tetangga kita, mereka-mereka yang lebih hebat dari kita, yang menganggap dirinya lebih hebat dari kita, tapi sekarang harus datang ke Indonesia minta 'boleh nggak kita beli beras?'," ujar Presiden Prabowo.
Situasi krisis pangan global diperkirakan akan berlangsung dalam periode yang cukup panjang, terbukti dari keputusan mendadak beberapa negara besar Asia untuk menghentikan pengiriman komoditas pertanian mereka. "Ada yang masih harga diri, agar lambat mintanya. Mungkin dia berusaha beli lagi dari mana. Ternyata beberapa hari yang lalu, India mengumumkan tutup, tidak ekspor beras, jagung, gandum. India tutup. Disusul oleh Bangladesh, tutup. Akhirnya, ada juga negara-negara yang akhirnya datang juga ke kita," sambung Presiden Prabowo.
Meskipun pemerintah Indonesia bersedia membantu memenuhi kebutuhan pangan global, Presiden menyayangkan adanya pihak asing yang mengajukan permintaan potongan harga (diskon) yang signifikan. "Ingat, krisis bisa lama ini, yang utama kita amankan rakyat kita dulu. Jadi, ada juga mau beli beras, habis itu minta korting, banyak banget kortingnya," ujar Presiden Prabowo.
Untuk mengantisipasi kerugian bagi produsen lokal akibat tuntutan diskon tersebut, Presiden secara spesifik memberikan arahan kepada Menteri Pertanian Amran Sulaiman dan jajaran Direksi Perum Bulog. Arahan tersebut menekankan agar harga jual luar negeri tetap memberikan margin keuntungan bagi petani.