TREN.BISNISMARKET.COM - Arus dana keluar dari produk exchange traded fund (ETF) Bitcoin spot di Amerika Serikat (AS) kembali mengalami peningkatan signifikan, menjadi penghambat pemulihan harga mata uang kripto terbesar di dunia. Fenomena ini terjadi ketika harga Bitcoin (BTC) mulai mendekati level psikologis yang dianggap sebagai titik impas investasi bagi sebagian besar pemegang aset institusional.
Menurut data yang dihimpun oleh K33 Research, arus dana keluar dari ETF Bitcoin spot di AS mencapai total 1,7 miliar dolar AS, setara dengan sekitar Rp 29,9 triliun (menggunakan kurs Rp 17.600 per dolar AS) selama periode lima hari perdagangan hingga Senin, 18 Mei 2026. Angka tersebut merupakan arus keluar mingguan terbesar kesembilan sejak ETF Bitcoin spot pertama kali diluncurkan pada awal tahun 2024.
Tekanan jual ini muncul bersamaan dengan pergerakan harga Bitcoin yang mulai merayap mendekati level 83.000 dolar AS. Angka ini krusial karena merupakan rata-rata harga pembelian atau titik impas investasi bagi para investor yang menempatkan dana melalui produk ETF Bitcoin.
Penelitian dari K33 Research menunjukkan adanya korelasi kuat antara harga Bitcoin dan potensi penarikan dana dalam jumlah besar dari ETF. "Hasil riset dari K33 menunjukkan bahwa potensi penarikan dana dalam skala besar meningkat pesat saat harga Bitcoin mendekati rata-rata harga beli investor," ujar sumber tersebut.
Lebih lanjut, riset tersebut mengindikasikan bahwa probabilitas terjadinya hari dengan arus keluar besar mencapai 10 persen ketika harga BTC berada di sekitar titik impas tersebut. Sebaliknya, probabilitas ini turun drastis menjadi hanya 3 persen ketika harga Bitcoin berhasil meroket jauh di atas rata-rata harga beli awal investor.
Kepala Riset K33, Vetle Lunde, menjelaskan bahwa perilaku investor ini didorong oleh upaya menghindari kerugian finansial. "Investor yang sebelumnya hampir mengalami kerugian memilih menjual untuk mengamankan posisi. Sementara investor yang masih berada di zona rugi memanfaatkan kenaikan harga untuk mengurangi kerugian," kata Vetle Lunde, dilansir dari Bloomberg pada Jumat, 22 Mei 2026.
Kondisi ini menyebabkan titik impas investasi yang seharusnya menjadi penopang harga, justru berubah menjadi zona tekanan jual yang signifikan. Selain faktor internal investor, fluktuasi harga juga dipengaruhi oleh ketidakpastian pasar global, termasuk isu konflik Iran yang sempat menekan reli aset kripto.
Level harga 83.000 dolar AS juga memiliki signifikansi teknikal yang penting, karena berada di sekitar rata-rata pergerakan harga 200 hari (200-day moving average), sebuah indikator jangka panjang bagi pelaku pasar. Analis dari CryptoQuant menyebutkan bahwa area teknikal ini seringkali menjadi penghalang bagi kenaikan harga Bitcoin, seperti yang pernah terjadi pada Maret 2022.
Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di kisaran 77.600 dolar AS, masih jauh di bawah rekor tertinggi sepanjang masa yang pernah mencapai 126.000 dolar AS. Tekanan dari arus dana keluar ETF belum mereda, terbukti dari penarikan dana sekitar 1,1 miliar dolar AS hingga sesi perdagangan Rabu, 20 Mei 2026.