TREN.BISNISMARKET.COM - Para pelaku pasar obligasi di Amerika Serikat memasuki pekan ini dengan penuh kewaspadaan. Perkiraan yang berkembang menunjukkan adanya peluang lebih dari sepertiga bahwa Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga acuannya. Keputusan penting ini dijadwalkan akan diumumkan pada hari Rabu mendatang.

Kecemasan investor ini semakin menguat akibat memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik yang terjadi di kawasan tersebut telah memicu lonjakan harga minyak mentah global. Kenaikan harga energi ini, pada gilirannya, memperbesar kekhawatiran akan kembali meningkatnya laju inflasi.

Hal ini tercermin dari pergerakan imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun. Aset acuan pasar obligasi ini tercatat melonjak 13 basis poin pada pekan lalu, menembus level 4,71%. Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak awal tahun 2025.

Kondisi ini juga dipengaruhi oleh ancaman eskalasi perang yang berpusat di Iran. Peristiwa tersebut sempat mendorong harga minyak mentah jenis Brent melampaui angka psikologis US$100 per barel. Imbal hasil obligasi dengan tenor 30 tahun pun turut merasakan dampaknya, menyentuh angka 5,19%.

Angka imbal hasil obligasi 30 tahun tersebut kini mendekati level yang terakhir kali terlihat hampir dua dekade yang lalu. Kondisi ini menunjukkan betapa seriusnya dampak kenaikan harga energi terhadap pasar keuangan global.

Kenaikan harga minyak mentah ini secara signifikan memperkeruh prospek pasar menjelang pengumuman kebijakan moneter The Fed pada 29 Juli. Para investor kini tengah mencermati apakah pejabat The Fed akan mengambil langkah menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak tahun 2023.

"Pedagang obligasi memasuki pekan ini dengan memperkirakan peluang lebih dari sepertiga bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga pada hari Rabu depan," demikian informasi yang dilansir dari Bloomberg.

"Hal ini terjadi setelah memanasnya ketegangan di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak, yang pada gilirannya memperkuat kekhawatiran inflasi dan imbal hasil obligasi," lanjut keterangan yang sama.

Perubahan praktik The Fed dalam memberikan sinyal mengenai arah kebijakan suku bunga di masa depan juga menambah ketidakpastian. Mantan Ketua The Fed, Kevin Warsh, diketahui telah meninggalkan praktik lama dalam memberikan petunjuk dini. Hal ini menjadikan pertemuan kebijakan kali ini sebagai salah satu yang paling sulit diprediksi dalam beberapa tahun terakhir bagi para investor.