TREN.BISNISMARKET.COM - Pasar mobil bekas premium asal Eropa di Indonesia menawarkan daya tarik tersendiri bagi para pencinta otomotif. Model-model sedan mewah seperti BMW Seri 7 atau Mercedes-Benz S-Class keluaran tahun lama kini dapat dibeli dengan harga yang relatif terjangkau.

Banyak unit mobil mewah yang kondisinya masih tampak mulus ditawarkan dengan banderol di bawah Rp 100 juta. Namun, di balik kenyamanan dan harga yang setara dengan mobil perkotaan bekas, tersembunyi risiko finansial yang besar bagi pemilik baru.

Hal ini diungkapkan oleh Effry, pemilik bengkel spesialis mobil Eropa New Benefit Auto Service yang berlokasi di Bogor. Ia menekankan bahwa harga beli mobil yang murah tidak otomatis membuat biaya perawatannya ikut murah.

Menurut Effry, ketika mobil premium tersebut mengalami kerusakan, harga suku cadang orisinalnya tetap mengikuti standar harga mobil mewah saat pertama kali diluncurkan.

"Masalahnya karena onderdilnya kalau sakit (rusak) melebihi harga mobilnya. Bisa-bisa kayak begitu," ujar Effry.

Sebagai ilustrasi, Effry memberikan contoh mengenai potensi biaya perbaikan pada komponen pintu sedan mewah, seperti BMW Seri 7 atau Mercedes-Benz S-Class. Jika modul elektronik atau mekanisme vakum pada pintu mengalami kerusakan, biaya perbaikannya bisa membengkak secara signifikan.

"Untuk sekalinya ada perbaikan pintu, harganya bisa Rp 17 juta itu modulnya, door lock-nya yang vakuum," ucap Effry.

Dikutip dari Otomotif, Effry menjelaskan bahwa jika dua atau tiga pintu mengalami kerusakan serupa, total biaya perbaikan tersebut dapat mendekati setengah dari harga pembelian mobil itu sendiri.

Faktor biaya suku cadang yang fantastis inilah yang sering kali membuat para penghobi pemula mobil mewah bekas akhirnya menyerah dan menelantarkan kendaraannya karena kesulitan biaya perawatan.