TREN.BISNISMARKET.COM - Otoritas penegak hukum di Eropa baru-baru ini mengumumkan keberhasilan mereka dalam membongkar sebuah sindikat kejahatan siber yang bergerak di bidang pencucian uang digital. Operasi ini berhasil mengamankan dana yang diperkirakan mencapai lebih dari US$ 380 juta, atau setara dengan sekitar Rp 6,7 triliun dalam nilai tukar saat ini.
Aksi penangkapan dilakukan terhadap para pelaku utama yang diketahui mengelola sebuah layanan pertukaran mata uang kripto bermasalah. Layanan ini diduga menjadi sarana utama bagi jaringan kriminal internasional untuk membersihkan hasil kejahatan siber mereka.
Menurut investigasi yang dilakukan, sindikat ini membangun sebuah operasi pencucian mata uang kripto yang skalanya menyerupai industri besar. Operasi ini berlandaskan pada ribuan akun pertukaran palsu yang dibuat menggunakan identitas curian atau identitas yang dibeli dari pihak tidak bertanggung jawab.
"Para penyelidik mengungkap yang mereka gambarkan sebagai operasi pencucian mata uang kripto berskala industri yang dibangun di sekitar ribuan akun pertukaran palsu yang dibuka dengan identitas curian atau dibeli," kata Europol, dikutip Bleeping Computer, Jumat (12/6/2026).
Dua orang yang diyakini sebagai administrator utama dari jaringan ini berhasil diciduk oleh pihak berwenang. Penangkapan kedua individu tersebut dilaksanakan di wilayah Georgia, melibatkan warga negara Ukraina dan Rusia.
Para administrator yang ditangkap ini diduga kuat berperan sentral dalam pengelolaan layanan berbahaya tersebut, termasuk dalam mengoperasikan forum Dark2Web yang terkait erat dengan sindikat tersebut.
Dalam rangkaian penyitaan yang dilakukan, pihak Europol juga mengumumkan sedang melakukan pencarian terhadap tiga properti milik jaringan kriminal tersebut. Selain itu, penyitaan juga mencakup 25 domain internet, 80 unit kendaraan dan barang pribadi lainnya, serta sejumlah uang kripto senilai 86 ribu euro.
Lebih lanjut, otoritas setempat telah mengambil langkah proaktif dengan membekukan aset kripto senilai 692 ribu euro yang teridentifikasi. Sebagai bagian dari penindakan lebih lanjut, akun Telegram yang digunakan oleh jaringan kejahatan ini juga telah berhasil diblokir oleh otoritas terkait.
Analisis mendalam dari Europol menunjukkan bahwa layanan pencucian ini memiliki keterkaitan dengan lebih dari 15 investigasi internasional yang sedang berjalan. Kasus-kasus tersebut sebagian besar melibatkan insiden ransomware dan berbagai tindak pidana pencurian aset kripto lainnya.