TREN.BISNISMARKET.COM - Perspektif unik datang dari Jeff Bezos, pendiri Amazon sekaligus orang terkaya keempat di dunia versi Forbes, dengan estimasi kekayaan mencapai US$248 miliar atau sekitar Rp4.418 triliun. Saat ini, dunia teknologi sedang dilanda gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.

Di tengah sentimen negatif tersebut, Bezos justru menyajikan pandangan yang sangat berbeda mengenai masa depan pekerjaan di era kecerdasan buatan (AI). Ia meyakini bahwa AI tidak akan membuat manusia tidak dibutuhkan, melainkan akan memicu kelangkaan tenaga kerja.

Pernyataan kontroversial ini disampaikan oleh Bezos saat dirinya berpartisipasi dalam konferensi teknologi VivaTech di Paris, Prancis, pada hari Rabu (17/6) waktu setempat. Dalam forum tersebut, ia memaparkan visinya yang luas mengenai inovasi masa depan.

Visi tersebut mencakup proyek antariksa ambisiusnya, Blue Origin, serta startup AI terbarunya yang bernama Prometheus. Prometheus diketahui berfokus pada upaya mempercepat proses manufaktur fisik di berbagai industri.

Bezos mengakui adanya kekhawatiran publik yang meluas mengenai peran AI dalam menghilangkan pekerjaan manusia. "Saya tahu ada banyak kekhawatiran dari banyak orang, termasuk banyak orang pintar, bahwa AI akan membuat manusia menjadi tidak lagi dibutuhkan dan sebagainya," ujar Bezos.

Namun, ia secara tegas menolak narasi pesimistik tersebut berdasarkan analisisnya terhadap potensi teknologi. "Saya sama sekali tidak setuju dengan sudut pandang tersebut. Dan saya pikir, justru AI akan menciptakan kekurangan tenaga kerja," lanjutnya.

Pandangan ini muncul kontras dengan realitas di mana banyak perusahaan teknologi global melakukan perampingan ribuan karyawan, seringkali mengaitkan langkah tersebut dengan efisiensi yang didorong oleh adopsi AI. Sebagai contoh, perusahaan di Amerika Serikat mengumumkan 97.006 PHK pada Mei lalu, di mana sekitar 40% di antaranya terkait dengan penggunaan AI, menurut data Challenger, Gray & Christmas.

Kekhawatiran publik juga tercermin dalam survei, di mana separuh warga Amerika Serikat menyatakan khawatir AI akan mengancam pekerjaan mereka atau anggota keluarga, sebagaimana ditemukan dalam jajak pendapat Reuters/Ipsos bulan ini. Penolakan terhadap AI juga disuarakan oleh berbagai kelompok, mulai dari pekerja muda hingga serikat pekerja di sektor otomotif dan penulis Hollywood.

Bezos berargumen bahwa kebutuhan dan jenis pekerjaan yang dibutuhkan manusia tidak akan pernah habis seiring berjalannya waktu. Menurutnya, orang terkaya keempat di dunia dengan kekayaan sekitar US$250 miliar ini, AI justru berfungsi sebagai alat bantu. Ia berpendapat AI akan membantu menghilangkan berbagai hambatan yang selama ini membatasi produktivitas manusia secara keseluruhan.