TREN.BISNISMARKET.COM - Peran penting dalam sejarah perbankan Indonesia di awal kemerdekaan ternyata bersandar pada sosok Margono Djohohadikusumo, kakek dari Presiden Prabowo Subianto. Ia bersama Soerachman menjadi tokoh sentral di balik pendirian Bank Negara Indonesia (BNI).
Pada masa awal pasca-proklamasi, kedua negarawan ini melihat urgensi mendirikan bank sentral demi kedaulatan ekonomi bangsa. Namun, keduanya memiliki pandangan berbeda mengenai cara mewujudkannya.
Margono, yang saat itu menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung, meyakini Indonesia harus membangun bank sentralnya sendiri, bukan mengandalkan warisan institusi asing. Ia menekankan kemandirian bangsa dalam membangun fondasi ekonomi.
Di sisi lain, Soerachman, yang memegang posisi Menteri Kemakmuran, berpendapat lain. Ia mengusulkan untuk menghidupkan kembali De Javasche Bank (DJB), sebuah bank bentukan kolonial Belanda.
Soerachman berargumen bahwa DJB telah lama mengawal perekonomian Indonesia dan memiliki sumber daya manusia yang mumpuni. Dengan demikian, Indonesia tidak perlu lagi membangun bank dari nol dan dapat memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada.
Situasi menjadi semakin genting ketika Belanda menunjukkan niat untuk kembali menjajah Indonesia. Mereka berencana menghidupkan kembali DJB sebagai bank sentral, sebuah langkah yang jelas mengancam kedaulatan ekonomi Indonesia.
"Belanda ingin menghidupkan kembali DJB sebagai bank sentral berdasarkan izin Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tanggal 2 Januari 1946," demikian bunyi catatan dari penyusun buku Semarang Sebagai Simpul Ekonomi (2022).
Rencana Belanda untuk mencetak dan mengedarkan uang mereka sendiri melalui DJB berpotensi besar mengacaukan perekonomian Indonesia. Hal ini semakin memperkuat pandangan Margono mengenai pentingnya bank nasional yang sepenuhnya dimiliki dan dikelola bangsa.
"Belanda ingin menghidupkan kembali DJB sebagai bank sentral berdasarkan izin Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tanggal 2 Januari 1946," tulis penyusun buku Semarang Sebagai Simpul Ekonomi (2022).