TREN.BISNISMARKET.COM - Nilai tukar Rupiah menunjukkan performa positif pada perdagangan hari Rabu, 20 Mei 2026, ditutup menguat mencapai posisi Rp17.653 per Dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan ini terjadi setelah adanya kejutan kebijakan moneter dari Bank Indonesia (BI) yang memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan secara signifikan.

Penguatan mata uang Garuda tersebut berhasil melaju sejauh 52 poin atau setara dengan apresiasi 0,29 persen dari penutupan hari sebelumnya. Pada hari Selasa (19/5/2026), posisi penutupan Rupiah tercatat berada di level Rp17.704 per Dolar AS sebelum intervensi kebijakan dilakukan.

Pergerakan positif Rupiah di pasar spot ini didorong oleh dua faktor utama yang diterima baik oleh investor. Faktor pertama adalah peningkatan kepercayaan terhadap kebijakan moneter yang diambil oleh Bank Indonesia, dan faktor kedua adalah langkah penghematan anggaran yang diterapkan oleh pemerintah.

Langkah pemerintah untuk mengurangi anggaran pada program prioritas, khususnya program Makan Bergizi Gratis (MBG), ternyata disambut positif oleh pelaku pasar. Sentimen positif ini semakin diperkuat dengan keputusan BI yang menaikkan suku bunga acuannya hingga 50 basis poin.

Situasi pasar ini dianalisis oleh Lukman Leong, seorang Analis dari Doo Financial Futures, yang menyoroti respons pasar terhadap kebijakan domestik. "Rupiah ditutup menguat ke 17.650 meski indeks dolar AS masih melanjutkan kenaikan. Penguatan rupiah ini didorong oleh respons positif investor terhadap langkah pemerintah memangkas anggaran, terutama MBG, serta keputusan mengejutkan BI menaikkan suku bunga sebesar 50 bps," ujar Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures.

Meskipun terjadi penguatan signifikan, prospek jangka panjang penguatan Rupiah masih perlu dicermati dengan hati-hati karena faktor eksternal. Perkembangan mata uang di negara berkembang secara umum masih rentan terhadap sentimen global yang fluktuatif.

Lukman Leong lebih lanjut menjelaskan bahwa meskipun sentimen domestik memberikan dukungan kuat setidaknya untuk jangka pendek, perhatian harus tetap dialihkan pada dinamika global. "Perkembangan domestik idealnya masih bisa mendukung penguatan rupiah untuk paling tidak jangka pendek, namun perkembangan eksternal juga masih akan menjadi perhatian, terutama pernyataan-pernyataan Trump terkait Iran dan risalah pertemuan FOMC malam ini," jelas Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures.

Perdagangan sore hari di kawasan Asia menunjukkan pergerakan yang bervariasi terhadap Dolar AS, menunjukkan kondisi pasar regional yang beragam. Mata uang seperti Yuan China dan Ringgit Malaysia sama-sama mencatat kenaikan 0,11 persen, sementara Dolar Singapura naik 0,1 persen.

Mata uang lainnya di Asia juga menunjukkan penguatan tipis, termasuk Peso Filipina (0,04 persen), Won Korea Selatan (0,02 persen), Dolar Taiwan (0,016 persen), dan Dolar Hong Kong (0,009 persen), sementara Yen Jepang terpantau stagnan. Di sisi lain, Rupee India mengalami pelemahan terdalam hingga 0,35 persen, diikuti oleh Baht Thailand yang terdepresiasi tipis 0,04 persen.