TREN.BISNISMARKET.COM - Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas, memunculkan kekhawatiran signifikan terhadap proyeksi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia tahun 2026. Potensi pelebaran defisit APBN semakin nyata seiring dengan eskalasi serangan balasan antara kedua negara yang berpotensi mengerek harga minyak dunia.
Konflik ini berawal dari serangan balasan Iran terhadap sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk, yang merupakan respons dari gelombang serangan AS sebelumnya. Pihak Teheran melalui Negosiator Utama Iran, Mohammed Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa tindakan AS membatalkan nota kesepahaman dan merapuhkan landasan gencatan senjata yang sebelumnya disepakati.
"Kami berada dalam perang penting dan eksistensial dengan Amerika Serikat, sehingga tidak ada alasan untuk terus mematuhi ketentuan perjanjian yang terus dilanggar oleh Negeri Paman Sam," ujar Mohammed Bagher Ghalibaf.
Dampak langsung dari memanasnya situasi ini terasa pada pasar energi global. Harga minyak mentah dilaporkan mengalami kenaikan signifikan, dari US$75,2 per barel pada Jumat (10/7/2025) menjadi US$78,9 per barel pada Senin (13/7/2026), bahkan menembus US$85,28 per barel pada hari yang sama (16/7/2026).
Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak dunia. Indonesian Crude Price (ICP) menjadi salah satu asumsi makroekonomi yang paling sensitif terhadap APBN, bahkan melebihi pergerakan nilai tukar rupiah.
Setiap kenaikan harga ICP sebesar US$1 per barel diprediksi akan menambah belanja APBN sebesar Rp10,3 triliun dan memperlebar defisit hingga Rp6,8 triliun. Angka ini lebih besar dibandingkan potensi tambahan penerimaan negara yang hanya Rp3,5 triliun untuk setiap kenaikan US$1 per barel.
Realisasi belanja subsidi dan kompensasi hingga paruh pertama tahun 2026 menunjukkan lonjakan signifikan. Anggaran yang telah dibelanjakan mencapai Rp233 triliun, atau 52,1% dari target APBN, meningkat 44,4% dibandingkan periode yang sama di tahun 2025.
Kementerian Keuangan memprakirakan ICP akan menyimpang ke level US$83 per barel rata-rata hingga akhir tahun. Hal ini menyebabkan proyeksi defisit APBN 2026 melebar 0,13% menjadi 2,85% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), atau sekitar Rp734,3 triliun.
Target defisit APBN 2026 yang awalnya ditetapkan sebesar 2,68% terhadap PDB (Rp689,1 triliun) didasarkan pada asumsi ICP sebesar US$70 per barel. Kenaikan harga minyak yang signifikan ini jelas menggerus target awal tersebut.