TREN.BISNISMARKET.COM - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (26/5/2026) menunjukkan tren negatif yang cukup signifikan. IHSG tercatat ditutup melemah sebanyak 56,67 poin atau setara dengan 0,91 persen, menutup sesi pertama di level 6.149.

Pemicu utama pelemahan ini adalah memanasnya situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Sentimen pasar global tertekan menyusul adanya serangan militer terbaru yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) ke wilayah Iran.

Kondisi negatif yang terjadi di bursa saham Indonesia ini ternyata sejalan dengan mayoritas pergerakan indeks saham lainnya di kawasan Asia yang juga mengalami koreksi. Hal ini menunjukkan bahwa isu Timur Tengah memiliki dampak luas terhadap sentimen investor regional.

Menurut analisis dari Pilarmas Investindo Sekuritas, penurunan ini terjadi karena pasar mulai kehilangan optimisme mengenai prospek tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran dalam waktu dekat. Pasar bereaksi negatif terhadap meningkatnya potensi konflik terbuka.

Aksi militer yang dilakukan oleh pasukan Amerika Serikat di bagian selatan Iran diklaim oleh Washington sebagai langkah yang bersifat defensif. Meskipun demikian, operasi tersebut langsung menimbulkan gelombang kecemasan baru di pasar modal global, padahal sebelumnya sempat ada harapan pembukaan kembali Selat Hormuz.

"Situasi tersebut terjadi karena pasar mulai kehilangan harapan terkait potensi tercapainya kesepakatan damai antara pihak AS dan Iran dalam waktu dekat," tulis Pilarmas dalam risetnya, Selasa (26/5/2026).

Selain faktor eksternal, sentimen di pasar saham domestik juga dipengaruhi oleh kebijakan moneter yang makin ketat dari bank sentral Indonesia. Para pelaku pasar dilaporkan tengah mencermati langkah otoritas keuangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

"Dari domestik, pelaku pasar juga mencermati langkah Bank Indonesia (BI) yang mulai memperketat kebijakan moneter demi menjaga stabilitas rupiah dan kepercayaan investor," tulis Pilarmas dalam risetnya, Selasa (26/5/2026).

Kebijakan pengetatan moneter ini telah dimulai sejak pekan sebelumnya, ditandai dengan kenaikan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin, menjadikan BI Rate berada di level 5,25 persen. Kenaikan ini merupakan yang pertama sejak Oktober tahun sebelumnya.