TREN.BISNISMARKET.COM - Perdagangan mata uang domestik kembali menghadapi tekanan signifikan pada Rabu pagi (8/7/2026), di mana nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah menembus batas psikologis Rp18.000 per Dolar AS.

Situasi ini mencerminkan kekhawatiran pasar global yang meningkat tajam menyusul perkembangan geopolitik terbaru di kawasan Timur Tengah yang memanas. Investor cenderung beralih ke aset yang dianggap lebih aman, seperti Dolar AS, sehingga menekan mata uang negara berkembang seperti Rupiah.

Data yang dihimpun dari salah satu pusat penukaran uang di Jakarta, Dolar Asia Money Changer, menunjukkan pergerakan kurs yang signifikan pada hari tersebut. Pergerakan ini menjadi sorotan utama bagi para pelaku pasar keuangan di Indonesia.

Menurut informasi dari petugas di money changer tersebut pada pukul 13.30 WIB, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS terpantau mencapai Rp18.030 untuk kurs jualnya. Sementara itu, harga beli kembali ditetapkan pada posisi Rp17.985 per Dolar AS.

Perlu dicatat bahwa pergerakan ini menunjukkan adanya pelemahan dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya. Sebelumnya, pada perdagangan hari Selasa (7/7/2026), Rupiah sempat menunjukkan ketahanan dengan penutupan yang menguat tipis sebesar 0,08% di posisi Rp17.970 per Dolar AS.

Pergerakan Rupiah sepanjang hari perdagangan Rabu ini diprediksi masih sangat rentan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen yang bersumber dari luar negeri. Faktor eksternal menjadi penentu utama arah pergerakan mata uang domestik hari ini.

Fokus utama pasar saat ini tertuju pada meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, yang muncul setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan balasan terhadap Iran. Eskalasi ini terjadi sebagai respons atas laporan insiden serangan terhadap sejumlah kapal tanker yang berlayar melintasi Selat Hormuz.

Gangguan pada jalur pelayaran krusial tersebut menimbulkan kekhawatiran serius mengenai potensi terganggunya pasokan energi global. Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai salah satu jalur vital dunia untuk distribusi minyak dan gas.

Setiap potensi gangguan di area tersebut secara langsung memicu keresahan pasar global terkait kesinambungan distribusi energi dunia. Hal ini secara otomatis meningkatkan permintaan terhadap mata uang safe haven.