TREN.BISNISMARKET.COM - Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Republik Korea (Korsel) semakin dipererat melalui penguatan kerja sama ekonomi di antara kedua negara yang berstatus sebagai kekuatan menengah (middle power). Komitmen investasi signifikan ini terwujud sebagai tindak lanjut dari kunjungan kenegaraan Presiden Joko Widodo pada 1 April 2026 ke Seoul, Korea Selatan.
Kesepakatan konkret yang dihasilkan mencakup nilai investasi fantastis mencapai US$102 miliar, yang setara dengan kurang lebih Rp173 triliun. Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan, Cecep Herawan, menjelaskan bahwa kesepakatan tersebut mencakup lebih dari dua puluh perjanjian spesifik.
"Ada lebih dari 20 kesepakatan yang sifatnya konkrit dan juga ada tercakup di dalamnya komitmen yang sifatnya G2G di bidang politik, pertahanan, ekonomi, pendidikan, budaya, serta teknologi dan AI," kata Cecep Herawan dalam pertemuan Indonesian Next-Generation Journalist Network yang diselenggarakan oleh Korea Foundation (KF) dan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Seoul, sebagaimana dikutip Senin (15/6/2026).
Sektor pertahanan menjadi salah satu pilar penting dalam kemitraan strategis kedua negara, di mana Indonesia diakui sebagai mitra utama Korsel. Sejak tahun 1979, Indonesia tercatat sebagai pelanggan pertama produk industri pertahanan dari Korea Selatan.
Beberapa alutsista andalan yang telah diakuisisi Indonesia antara lain pesawat latih KAI KT-1 Woongbi dan pesawat tempur KAI T-50 Golden Eagle, yang keduanya telah dioperasikan oleh TNI Angkatan Udara.
Lebih dari sekadar transaksi pembelian, kerja sama ini juga mencakup transfer pengetahuan dan pengembangan industri bersama. Indonesia saat ini berpartisipasi aktif dalam proyek pengembangan jet tempur generasi terbaru, KF-21 Boramae.
"Tidak hanya ini, kita bukan hanya sekadar membeli untuk kepentingan pertahanan. Tetapi yang terpenting, Indonesia juga menjadi mitra pembangunan industri Korea bidang pertahanan," ujar Cecep Herawan.
Delegasi Indonesia juga mengirimkan sejumlah insinyur dan pilot untuk terlibat langsung dalam proyek KF-21 Boramae, yang diharapkan memperkuat Sumber Daya Manusia (SDM) domestik di sektor industri pertahanan.
"Korea memang belajar industri pertahanan dari Amerika. Dan kita belajar industri pertahanan yang sudah dipelajari Korea dari Amerika ke Korea," imbuh Cecep Herawan.