TREN.BISNISMARKET.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan pergerakan korektif pada penutupan perdagangan sesi pertama hari Rabu, 17 Juni 2026. Koreksi ini terjadi setelah indeks berhasil mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 17,09% dalam lima hari perdagangan terakhir sejak mencapai titik terendah pada 8 Juni 2026.
Pada sesi tersebut, IHSG terpantau turun sebanyak 52,5 poin atau melemah sebesar 0,84%, dan ditutup pada level 6.202,47. Pergerakan indeks pada sesi pagi sempat berada di zona hijau dan sempat mencapai level tertinggi harian di 6.377,19 sebelum akhirnya mengalami penurunan konsisten menjelang jeda makan siang.
Data transaksi menunjukkan bahwa sentimen jual lebih mendominasi pada sesi pertama ini, di mana sebanyak 418 emiten mengalami penurunan harga. Sementara itu, hanya 288 emiten yang mampu bertahan di zona hijau, dan 253 lainnya tercatat tidak mengalami perubahan harga.
Nilai transaksi pasar modal hingga jeda makan siang mencapai Rp 16,29 triliun, melibatkan pergerakan sebanyak 20,3 miliar saham yang dieksekusi melalui 1,53 juta kali transaksi. Sebagian besar nilai transaksi ini disumbangkan oleh aktivitas negosiasi saham Merdeka Gold Resources (EMAS).
Emiten yang terafiliasi dengan Edwin Soeryadjaya dan Winato Kartono tersebut mencatatkan nilai transaksi fantastis sebesar Rp 2,81 triliun di pasar negosiasi. Hal ini mengindikasikan adanya pergerakan besar dari investor institusional pada saham tersebut.
Analisis sektoral memperlihatkan bahwa sektor utilitas menjadi sektor dengan pelemahan terdalam pada sesi pertama hari itu, dengan penurunan mencapai -8,05%. Sektor lain yang ikut tertekan adalah bahan baku (-2,17%) dan energi (-2,08%), sementara hanya sektor teknologi dan industri yang berhasil bertahan di zona positif.
Barito Renewables Energy (BREN) tercatat sebagai kontributor terbesar yang menyeret IHSG ke zona merah pada siang hari. Saham BREN anjlok hingga 10,59%, memberikan kontribusi negatif sebesar -16,6 poin terhadap pergerakan indeks secara keseluruhan.
Beberapa saham besar lainnya yang masuk dalam kategori top laggards hari itu antara lain Bank Mandiri (BMRI), Sinar Mas Multiartha (SMMA), dan Aman Mineral (AMMN). Di sisi lain, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Central Asia (BBCA) masih mampu menguat dan bertindak sebagai penahan agar indeks tidak jatuh terlalu dalam.
Dikutip dari Refinitiv, "Sektor utilitas turun paling dalam, yakni -8,05%. Kemudian diikuti bahan baku -2,17% dan energi -2,08%," menggarisbawahi sektor mana yang paling tertekan pada sesi tersebut.