TREN.BISNISMARKET.COM - Layanan "Beli Sekarang Bayar Nanti" atau Buy Now Pay Later (BNPL) terus menunjukkan geliat pertumbuhan yang signifikan di Indonesia. Data terbaru hingga Mei 2026 mencatat lonjakan mencapai 53,78%, sebuah angka yang mengindikasikan tingginya adopsi masyarakat terhadap produk pembiayaan inovatif ini.
Namun, di balik angka pertumbuhan yang mengesankan tersebut, tersimpan sinyal peringatan yang patut diwaspadai. Peningkatan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Financing (NPF) hingga mencapai 3,44% menjadi indikator bahwa ada potensi risiko yang perlu segera diatasi.
Fenomena ini menjadi perhatian serius dari berbagai pihak, termasuk para pengamat industri. Peningkatan NPF yang menyertai pertumbuhan BNPL mengindikasikan adanya tantangan dalam pengelolaan kualitas pembiayaan yang disalurkan oleh para penyedia layanan.
Pihak ICT Institute secara tegas mengingatkan para pelaku industri untuk tidak terlena dengan angka pertumbuhan semata. Penjagaan kualitas pembiayaan harus menjadi prioritas utama agar lonjakan tersebut tidak berujung pada masalah yang lebih besar di kemudian hari.
"Industri perlu menjaga kualitas pembiayaan," tegas pengamat ICT Institute, mengingatkan pentingnya langkah antisipatif dalam menghadapi tren positif namun berisiko ini.
Penyedia layanan BNPL dituntut untuk lebih cermat dalam melakukan analisis kredit dan mitigasi risiko. Hal ini penting guna memastikan bahwa setiap pembiayaan yang disalurkan benar-benar dapat dikelola dengan baik oleh para konsumen.
Risiko terlambatnya penanganan masalah ini bisa berdampak luas, tidak hanya bagi penyedia layanan, tetapi juga bagi stabilitas ekosistem keuangan digital secara keseluruhan. Oleh karena itu, pemahaman mendalam akan risiko sebelum mengambil keputusan finansial sangatlah krusial bagi konsumen.