TREN.BISNISMARKET.COM - Kenaikan signifikan pada harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang berlaku pekan ini menimbulkan kekhawatiran baru bagi para pelaku usaha di Indonesia mengenai potensi peningkatan biaya operasional.
Pertamax (RON 92) mengalami penyesuaian harga yang cukup drastis, melonjak dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Kenaikan serupa juga terjadi di SPBU swasta, di mana BP-AKR menaikkan harga BP 92 (RON 92) dari Rp12.390 menjadi Rp16.670 per liter, dan BP Ultimate mengalami kenaikan dari Rp12.930 menjadi Rp17.240 per liter.
Pengusaha Konveksi Mendesak Pemerintah Perketat Pengawasan Impor Agar Industri RI Tak Tergerus
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, menyoroti bahwa dampak kenaikan BBM nonsubsidi kali ini berbeda dibandingkan penyesuaian harga BBM pada April lalu yang lebih didominasi oleh kenaikan solar nonsubsidi.
Menurutnya, lonjakan harga Pertamax dan Pertamax Green berpotensi besar menekan biaya mobilitas usaha, khususnya bagi kendaraan operasional yang menggunakan bahan bakar bensin, berbeda dengan solar yang lebih cepat memengaruhi biaya logistik.
"Dalam jangka pendek, dampaknya akan terasa pada kenaikan biaya operasional harian, terutama bagi pelaku usaha yang memiliki intensitas mobilitas tinggi," tutur Shinta kepada Bisnis, dikutip Minggu (14/6/2026).
Shinta mencontohkan sektor yang paling rentan terdampak kenaikan ini meliputi usaha jasa, ritel, distribusi skala kecil, penyedia layanan kurir atau last-mile delivery, serta bisnis yang sangat bergantung pada pemasaran dan pelayanan langsung kepada konsumen.
Sementara perusahaan besar umumnya masih memiliki ruang untuk melakukan efisiensi biaya, kenaikan harga BBM ini diprediksi akan menjadi beban tambahan signifikan bagi UMKM yang memiliki batas margin usaha yang jauh lebih terbatas.
Dilansir dari Bisnis.com, dunia usaha saat ini tengah menghadapi berbagai tekanan biaya lain, termasuk pelemahan daya beli, fluktuasi nilai tukar, serta ketidakpastian ekonomi global.