TREN.BISNISMARKET.COM - Kenaikan signifikan pada harga laptop di pasar Indonesia belakangan ini telah mengubah preferensi konsumen dalam pemilihan perangkat komputasi. Fenomena ini dipicu oleh krisis memori global yang berdampak langsung pada melonjaknya harga komponen utama, termasuk RAM.
Hal ini secara tidak langsung memberikan keuntungan bagi produsen perangkat alternatif, seperti tablet, yang kini mulai dilirik sebagai pengganti laptop oleh sebagian masyarakat. Distributor Honor di Indonesia mencatat adanya peningkatan volume penjualan tablet mereka seiring dengan kenaikan harga laptop yang mulai terjadi sekitar dua bulan terakhir.
Aryo Meidianto, Head of Public Relations PT Trinova Digital Indonesia, mengonfirmasi dampak positif kenaikan harga laptop terhadap penjualan tablet merek Honor. "Harusnya sih dari yang kemarin awal-awalnya si laptop kena sampai sekarang itu sekitar 30-40% naik dari tablet," kata Aryo Meidianto, usai acara hands-on Honor Pad X8b di Jakarta, pada Senin (25/5/2026).
Menurut Aryo, dengan anggaran sekitar Rp5 jutaan, konsumen kini bisa memperoleh tablet baru dengan spesifikasi yang cukup mumpuni dan bobot ringan. Kondisi ini sangat kontras dibandingkan dengan pasar laptop.
Beliau menambahkan bahwa dengan dana yang sama, konsumen mungkin hanya mampu membeli laptop bekas yang usianya sudah cukup tua. "Ia menambahkan dengan budget Rp 5 jutaan konsumen bisa mendapatkan tablet yang ringan dan dengan spesifikasi terbaru. Sementara itu, dengan harga yang sama mungkin hanya bisa mendapatkan laptop bekas yang usianya sudah uzur," ucap Aryo Meidianto.
Saat ini, lini produk Honor di pasar domestik menunjukkan dominasi perangkat tablet dibandingkan dengan lini smartphone, dengan catatan volume penjualan tablet yang tercatat lebih tinggi. Kondisi ini menjadi fokus utama strategi penjualan perusahaan di Indonesia untuk sementara waktu.
Untuk mengatasi potensi gejolak nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang dapat memengaruhi harga jual, Honor menerapkan strategi pembelian komponen dalam jumlah besar atau bulk buying. Langkah ini bertujuan menjaga stabilitas harga jual produk mereka di pasar lokal.
Aryo Meidianto menjelaskan mekanisme strategi tersebut guna memitigasi risiko kenaikan harga komponen di masa depan. "Jadi kita hitung dulu kira-kira si perangkat ini end-of-life-nya sampai kapan. Dari situ kita bisa langsung, istilahnya pesan bulk, sebanyak itu," ujar Aryo Meidianto.
Strategi pemesanan massal ini memastikan bahwa Honor tidak akan langsung terpengaruh oleh fluktuasi harga komponen saat proses produksi berlangsung. Hal ini berbeda dengan vendor lain yang memiliki stok terbatas.