TREN.BISNISMARKET.COM - Seorang mantan karyawan Microsoft Italia yang dikenal dengan nama Nour melontarkan tuduhan serius terhadap perusahaan teknologi tempatnya bekerja sebelumnya. Tuduhan ini secara spesifik menuding bahwa Microsoft telah memberikan bantuan kepada Israel dalam melancarkan serangan terhadap Palestina.
Isu mengenai konflik Israel dan Palestina yang telah berlangsung sejak Oktober 2023 menjadi latar belakang utama dari klaim yang disampaikan oleh Nour. Ia secara eksplisit menyatakan bahwa raksasa teknologi tersebut memberikan dukungan terhadap praktik serangan dan operasi militer Israel yang sedang berlangsung di Gaza.
Nour menuding bahwa pusat data serta infrastruktur komputasi awan (cloud) milik mantan perusahaannya memainkan peran aktif dalam mendukung aktivitas militer di wilayah Gaza. Selain itu, ia juga mengaitkan perluasan jaringan pusat data tersebut dengan upaya memperluas sistem teknologi pengawasan dan peperangan.
Klaim ini juga merujuk pada temuan yang dipublikasikan oleh The Guardian pada Agustus 2025 sebelumnya. Temuan tersebut mengungkapkan bahwa unit intelijen dalam platform cloud Azure milik Microsoft menyimpan data percakapan telepon yang dicegat dari Palestina dalam jumlah besar.
Menurut informasi yang beredar, data yang tersimpan tersebut mencapai volume 11.500 terabyte. Sebagian besar dari volume data masif ini diketahui disimpan di fasilitas Microsoft yang berada di Belanda, dengan tambahan penyimpanan di Irlandia.
"Sebagian besar data yang disimpan tersebut digunakan untuk mendukung analisis intelijen dan operasi militer," ujar informasi yang didapatkan dari sumber terkait. Sementara itu, Nour sendiri menegaskan bahwa sistem yang digunakan oleh Microsoft turut berperan dalam proses penargetan militer.
Lebih lanjut, Nour juga menuduh adanya upaya pemindahan data setelah investigasi media tersebut dipublikasikan pada tahun 2025. Ia mengklaim bahwa Microsoft bersama otoritas Israel telah mengirimkan data hasil pencegatan dari server Eropa menuju pusat data di Israel pada waktu itu.
Dilansir dari Economic Times, disebutkan bahwa saat ini belum ada bukti konkret yang dapat mengonfirmasi secara resmi tuduhan mengenai transfer data tersebut. Tuduhan serupa telah muncul beberapa kali sebelumnya, dan Microsoft telah memberikan bantahan resmi.
Presiden Microsoft, Brad Smith, pernah menyatakan bahwa pihaknya tidak menemukan bukti bahwa layanan Azure digunakan untuk pengawasan massal terhadap warga sipil. Bahkan, ia menyebutkan bahwa pihaknya telah menonaktifkan beberapa layanan tertentu yang digunakan oleh sebuah unit di kementerian pertahanan Israel.