TREN.BISNISMARKET.COM - Kekhawatiran besar melanda masyarakat Amerika Serikat mengenai masa depan pekerjaan mereka akibat perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI). Sebuah survei terkini yang diselenggarakan oleh Reuters dan Ipsos menunjukkan bahwa mayoritas responden menaruh kegelisahan terhadap potensi AI menghilangkan lapangan kerja.
Berdasarkan survei yang dilaksanakan selama enam hari tersebut, sebanyak 53% partisipan mengaku merasa khawatir bahwa teknologi AI berpotensi menggantikan peran pekerjaan yang saat ini mereka emban. Kekhawatiran ini terdistribusi cukup merata tanpa memandang batasan usia, jenis kelamin, maupun tingkat pendidikan responden.
Di sisi lain spektrum kekhawatiran, terdapat 37% responden yang menyatakan sama sekali tidak merasa khawatir mengenai dampak AI terhadap sektor ketenagakerjaan. Sisanya, yaitu sekitar 10%, memilih untuk menyatakan ketidakpastian atau menolak memberikan jawaban mengenai isu tersebut.
Hasil temuan survei ini terjadi di tengah gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang diumumkan oleh beberapa korporasi besar, di mana beberapa di antaranya secara spesifik mengaitkan restrukturisasi tersebut dengan strategi pengembangan investasi di bidang AI. Salah satu contohnya adalah perusahaan perangkat lunak Intuit yang mengumumkan pemangkasan 17% tenaga kerja globalnya bulan lalu untuk fokus pada investasi AI.
Ancaman yang ditimbulkan oleh AI tidak hanya terbatas pada isu pekerjaan, namun juga mencakup penggunaannya sebagai alat propaganda politik, hiburan, hingga dalam konteks peperangan, yang mana hal ini memicu peringatan serius dari berbagai pemimpin dunia, termasuk Paus Leo XIV.
Meskipun demikian, gambaran menyeluruh mengenai dampak AI terhadap pasar tenaga kerja secara agregat masih belum dapat dipastikan sepenuhnya. Dilansir dari CNBC Indonesia, perekonomian Amerika Serikat secara umum masih mencatatkan pertumbuhan lapangan kerja yang tergolong solid dalam beberapa bulan terakhir.
Salah satu responden survei, Jennifer Schalhoub, seorang penulis lepas berusia 62 tahun dari Little Ferry, New Jersey, baru-baru ini mengalami kehilangan pekerjaan menulis surat kepada pejabat pemerintah untuk mendukung kebijakan tertentu. Ia menduga perkembangan AI menjadi salah satu faktor utama di balik hilangnya profesinya tersebut.
Schalhoub menyampaikan pandangannya mengenai perubahan cepat di dunia kerja saat ini, "AI mengambil alih karena orang semakin kurang peduli dengan kualitas pekerjaan yang dihasilkan," dikutip dari Reuters, Kamis (11/6/2026).
Perhatian publik terhadap AI meningkat signifikan di Amerika Serikat sejak peluncuran ChatGPT oleh OpenAI pada tahun 2022, yang menawarkan kemampuan menjawab pertanyaan layaknya manusia dan mengubah cara pencarian informasi, langsung menantang dominasi mesin pencari Google milik Alphabet.