TREN.BISNISMARKET.COM - Sebuah penemuan ilmiah signifikan berhasil mengungkap rahasia geologis di balik salah satu sungai terpenting dalam sejarah peradaban manusia, yaitu Sungai Eufrat. Tim ilmuwan internasional telah mempublikasikan temuan mengenai bagaimana sungai bersejarah ini terbentuk dari konvergensi dua aliran air purba.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal bergengsi Nature Geoscience pada 1 Juni 2026 ini menjelaskan bahwa Sungai Eufrat modern merupakan hasil penyatuan dua sungai prasejarah yang berbeda. Kedua sungai kuno tersebut diberi nama Paleo-Karasu dan Paleo-Murat, yang mulai mengalir sekitar 5,4 juta tahun silam melintasi wilayah yang kini merupakan Turki dan Suriah.
Para peneliti berhasil melacak bahwa kedua sungai ini awalnya bermuara langsung ke Laut Mediterania hingga periode sekitar 5,33 juta tahun yang lalu. Namun, dinamika pergeseran tektonik yang masif di kawasan tersebut kemudian memaksa perubahan drastis pada jalur aliran alami kedua sungai purba tersebut.
Perpindahan jalur terjadi secara bertahap, di mana Paleo-Murat tercatat sebagai yang pertama mengubah arah alirannya sekitar 3,6 juta tahun lalu. Sekitar 800.000 tahun kemudian, barulah sungai purba kedua, Paleo-Karasu, mengalami perubahan signifikan pada lintasannya.
Titik balik pembentukan Eufrat terjadi sekitar 1,6 juta tahun lalu, ketika kedua jalur sungai purba tersebut akhirnya bertemu dan menyatu. Setelah bergabung, aliran gabungan ini mulai mengalir ke arah tenggara menuju Teluk Persia, menghasilkan Sungai Eufrat yang kita kenal saat ini.
Andrew Madof, penulis utama studi tersebut, menekankan bahwa jejak-jejak dari sistem sungai purba ini masih dapat terdeteksi hingga kini, baik di daratan maupun di bawah laut. "Lanskap modern di daratan, bersama sedimen yang terkubur di lepas pantai, masih menyimpan tanda-tanda jelas dari Sungai Efrat purba," kata Madof, dikutip dari Live Science, Kamis (18/6/2026).
Penemuan penggabungan dua sungai ini diyakini berperan krusial dalam pembentukan kawasan Bulan Sabit Subur (Fertile Crescent), sebuah area yang menjadi cikal bakal perkembangan peradaban manusia awal. Madof menggarisbawahi pentingnya peristiwa geologis ini bagi sejarah kemanusiaan.
"Jika sungai Palaeo-Murat dan Palaeo-Karasu tidak berpindah jalur dan bergabung pada saat itu, tidak jelas apakah Fertile Crescent akan terbentuk seperti sekarang," ujarnya. Kawasan Bulan Sabit Subur membentang dari Mesir hingga Irak tenggara, dengan Mesopotamia (tempat Sungai Tigris dan Eufrat berada) sebagai pusatnya.
Metodologi penelitian ini melibatkan analisis data seismik, pemetaan permukaan daratan, serta pemanfaatan citra satelit untuk menelusuri jalur kuno. Selain itu, tim menganalisis lapisan sedimen berusia 5 hingga 6 juta tahun yang terkubur di lepas pantai Lebanon dan Turki.