TREN.BISNISMARKET.COM - Unit perdana dari ponsel pintar Trump T1 dijadwalkan akan segera dikirimkan kepada para pemesan mulai akhir pekan ini. Langkah ini menandai babak baru bagi perusahaan milik Donald Trump tersebut setelah melewati berbagai fase penundaan dan isu pembatalan desain.

Kepastian mengenai distribusi komersial perangkat ini dikonfirmasi langsung oleh CEO Trump Mobile, Pat O'Brien. Dikutip dari Suara, pihak manajemen memastikan bahwa pelanggan yang telah melakukan pra-pemesanan akan segera mendapatkan unit mereka dalam waktu dekat.

"Penantian panjang para konsumen akan terbayar karena kami menghadirkan produk yang luar biasa," ujar Pat O'Brien saat memberikan keterangan terkait peluncuran tersebut.

Proses pengiriman ini diperkirakan akan berlangsung secara bertahap selama beberapa pekan ke depan. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh pesanan awal dapat terpenuhi secara merata kepada para konsumen yang telah menunggu lama.

Meskipun diklaim memiliki minat pasar yang tinggi, Trump T1 hadir dengan harga promosi sebesar 499 dolar AS atau setara dengan Rp8,8 juta. Namun, sejumlah pengamat teknologi memberikan catatan kritis terkait nilai kompetitif perangkat ini jika dibandingkan dengan ponsel kelas menengah lainnya.

Secara teknis, Trump T1 diketahui berbasis pada model HTC U24 Pro keluaran tahun 2024 dengan beberapa penyesuaian fitur. Ponsel ini ditenagai oleh chipset Snapdragon seri 7 dan layar AMOLED 6,78 inci yang mendukung refresh rate 120Hz.

Beberapa fitur penting justru absen dari perangkat ini, seperti pengisian daya nirkabel meski sudah memiliki baterai berkapasitas 5.000 mAh. Sektor fotografi mengandalkan lensa utama 50MP dan lensa telefoto yang hanya memiliki kemampuan 2x zoom.

Sistem operasi yang digunakan juga menjadi sorotan tajam karena masih mengandalkan Android 15 di tengah populernya Android 16. Terkait lokasi produksi, status manufaktur yang awalnya disebut buatan Amerika Serikat kini dikonfirmasi hanya melalui tahap perakitan akhir di Miami.

"Produk kami dirancang dengan mempertimbangkan nilai-nilai Amerika, walau komponen utamanya tetap bergantung pada rantai pasok global," kata Pat O'Brien menanggapi isu asal-usul komponen perangkatnya.