TREN.BISNISMARKET.COM - PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), sebagai calon emiten yang bergerak di bidang distribusi alat laboratorium, farmasi, dan kedokteran, telah mengumumkan rencana untuk melaksanakan Penawaran Umum Perdana Saham atau Initial Public Offering (IPO). Rencana ini merupakan langkah strategis perseroan untuk mendapatkan suntikan modal segar dari pasar publik.

Dalam proses IPO ini, EMMI berencana untuk menawarkan sebanyak-banyaknya 522,86 juta saham baru yang akan diterbitkan. Jumlah saham yang dilepas tersebut setara dengan porsi maksimal 30% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh perusahaan pasca-pelaksanaan penawaran perdana saham.

Berdasarkan prospektus terbaru perusahaan, kisaran harga penawaran saham ditetapkan antara Rp446 hingga Rp515 per lembar saham. Dengan rentang harga tersebut, EMMI berpotensi menghimpun dana maksimal mencapai Rp269,27 miliar dari aksi korporasi ini.

Menariknya, perseroan juga mengalokasikan sebagian dari saham yang ditawarkan untuk program Employee Stock Allocation (ESA). Alokasi tersebut mencapai sebanyak-banyaknya 52,29 juta saham, yang merepresentasikan 10% dari total saham yang ditawarkan kepada publik.

Penjaminan penuh (full commitment) atas pelaksanaan IPO ini akan dilakukan oleh PT BRI Danareksa Sekuritas dan PT INA Sekuritas Indonesia, yang bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Jadwal penawaran umum diperkirakan berlangsung pada rentang tanggal 2 hingga 6 Juli 2026 mendatang.

Dilansir dari prospektus, pencatatan saham perdana EMMI di Bursa Efek Indonesia (BEI) dijadwalkan akan dilaksanakan pada tanggal 8 Juli 2026. Perusahaan juga mencatatkan kinerja finansial yang positif pada tahun buku 2025, dengan laba mencapai Rp34,13 miliar.

Kinerja laba tahun 2025 tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan capaian tahun sebelumnya, di mana perusahaan membukukan laba sebesar Rp11 miliar. Sementara itu, penjualan bersih EMMI sepanjang tahun 2025 tercatat menyentuh angka Rp454,63 miliar.

Saat perusahaan pertama kali didirikan, struktur kepemilikan sahamnya didominasi oleh Surya Gunawan Widjaja dengan porsi 55%, diikuti oleh Eddy Lie sebesar 35%, dan Andre Fajar Surya Gunawan memegang 10% kepemilikan.

"Seluruh dana yang diperoleh dari IPO setelah dikurangi biaya emisi akan digunakan untuk mendukung penguatan struktur keuangan dan ekspansi usaha," demikian disampaikan dalam dokumen prospektus perusahaan.