TREN.BISNISMARKET.COM - PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI), sebuah emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor konstruksi, melaporkan kinerja keuangan yang cukup menarik pada paruh pertama tahun 2026. Perusahaan berhasil membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp8,49 miliar.
Angka tersebut menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 12,57% jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya, di mana laba bersih yang tercatat adalah Rp7,54 miliar. Kenaikan laba ini terjadi meskipun terdapat tantangan di sisi pendapatan usaha.
Pendapatan usaha ADHI pada semester I-2026 mengalami penurunan sebesar 18,35%, tercatat senilai Rp3,11 triliun. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025 yang mencapai Rp3,81 triliun.
Namun, strategi efisiensi yang diterapkan oleh ADHI terbukti ampuh dalam menekan biaya. Beban pokok pendapatan berhasil ditekan secara signifikan, turun 25,50% menjadi Rp2,41 triliun dari sebelumnya Rp3,24 triliun.
Penurunan beban pokok pendapatan yang lebih besar daripada penurunan pendapatan usaha ini berujung pada lonjakan laba bruto sebesar 22,28%. Laba bruto melonjak menjadi Rp700,42 miliar, meningkat dari Rp572,87 miliar pada semester I-2025.
Dari sisi operasional, total beban usaha perusahaan juga berhasil dikendalikan dengan baik, hanya mengalami sedikit kenaikan tipis menjadi Rp384,25 miliar. Beban penjualan tercatat naik 12,15% menjadi Rp6,51 miliar, sementara beban umum dan administrasi mengalami sedikit penurunan 0,14% menjadi Rp377,74 miliar.
Efisiensi operasional ini secara keseluruhan mendorong laba usaha ADHI untuk melonjak drastis, mencapai 67,69%. Laba usaha tercatat sebesar Rp316,17 miliar, jauh melampaui angka Rp188,85 miliar pada semester I-2025.
Kontribusi dari bagian laba ventura bersama juga menunjukkan pertumbuhan positif, meningkat sekitar 1,17% menjadi Rp188,41 miliar dari Rp186,24 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meskipun demikian, kinerja positif di tingkat operasional sedikit tertahan oleh membengkaknya beberapa pos non-operasional. Bagian rugi entitas asosiasi tercatat meningkat tajam hingga 611,59%, yaitu menjadi Rp23,92 miliar dari Rp3,36 miliar.