TREN.BISNISMARKET.COM - PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) telah mengumumkan rencana pembagian dividen tunai kepada para pemegang sahamnya. Alokasi keuntungan ini ditetapkan senilai total US$30 juta, yang setara dengan sekitar Rp6,07 per lembar saham.
Momen pembagian dividen ini memiliki signifikansi penting bagi investor karena Senin, 25 Mei 2026, ditetapkan sebagai tanggal cum date dividen baik di pasar reguler maupun pasar negosiasi. Informasi mengenai keputusan pembagian keuntungan ini disampaikan kepada publik sebagaimana mestinya.
Keputusan emiten yang terafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu ini diambil di tengah kondisi pasar yang sedang memberikan tekanan kuat terhadap harga saham TPIA. Harga saham perusahaan tersebut mengalami pelemahan signifikan sepanjang pekan sebelumnya.
Sebagai ilustrasi, pada penutupan perdagangan hari Jumat, 22 Mei 2026, harga saham TPIA tercatat merosot tajam hingga 11,89 persen, ditutup pada level Rp2.000 per saham. Penurunan ini menambah akumulasi kemerosotan nilai saham TPIA selama sepekan terakhir.
Apabila mengacu pada harga penutupan akhir pekan lalu, potensi imbal hasil (yield) dividen yang bisa didapatkan oleh investor diperkirakan berada pada kisaran 0,3 persen. Angka ini menunjukkan imbal hasil yang relatif kecil dibandingkan dengan volatilitas harga saham yang terjadi.
Menariknya, di tengah tekanan jual yang kuat dari pasar, terdeteksi adanya aktivitas pembelian tersembunyi dari investor domestik. Broker Mirae Asset Sekuritas mencatat adanya aksi beli bersih (net buy) oleh investor lokal dengan nilai mencapai Rp81,6 miliar.
Aksi beli bersih oleh investor lokal tersebut terjadi dalam periode 16 hingga 22 Mei 2026, dengan harga pembelian rata-rata tercatat di angka Rp2.496 per saham. Hal ini menunjukkan adanya keyakinan tertentu dari investor domestik terhadap prospek jangka panjang perusahaan.
Sementara itu, data dari BRI Danareksa Sekuritas menunjukkan kontras yang jelas dari sisi investor internasional. Pelaku pasar modal asing tercatat membukukan aksi jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp458 miliar di pasar reguler sepanjang satu bulan terakhir.
Pihak sekuritas memberikan pandangan bahwa pergerakan instrumen investasi TPIA masih terperangkap dalam tren penurunan yang kuat pasca menembus batas bawah psikologisnya. Analisis teknikal mengindikasikan adanya risiko koreksi lanjutan yang perlu diantisipasi oleh para pelaku pasar.