TREN.BISNISMARKET.COM - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan tengah memantau secara serius eskalasi ketegangan geopolitik yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah. Pemantauan ini dilakukan karena adanya potensi dampak tidak langsung konflik tersebut yang dapat merembet ke sektor perbankan domestik melalui transmisi ekonomi global.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengungkapkan bahwa sejauh ini dampak langsung dari konflik tersebut terhadap perbankan nasional masih berada dalam batas yang terkendali. Hal ini disebabkan oleh minimnya keterkaitan aset maupun kewajiban bank-bank di Indonesia dengan wilayah yang sedang bergejolak tersebut.
Dilansir dari Investortrust, Dian Ediana Rae menjelaskan bahwa eksposur langsung perbankan terhadap non-residen di Timur Tengah tergolong kecil, baik dari sisi klaim maupun liabilitas. Oleh karena itu, pengaruh langsung konflik ini dinilai tidak signifikan terhadap permodalan maupun likuiditas perbankan nasional.
Namun, OJK tetap mewaspadai karena sistem perekonomian Indonesia menganut prinsip ekonomi terbuka yang rentan terhadap ketidakpastian global. Konflik bersenjata di kawasan tersebut dapat mengganggu tatanan geoekonomi secara luas jika situasi tidak segera mereda.
"Sebetulnya kalau dilihat dampak langsung, tentu saja dampak yang saya maksud adalah dampak langsung dari konflik Timur Tengah itu sebetulnya relatif terbatas ya, mengingat kalau kita lihat eksposur langsung perbankan terhadap non-residen di Timur Tengah itu sebenarnya cukup kecil ya, baik dari sisi klaim maupun juga liabilities-nya, sehingga pengaruhnya tidak signifikan terhadap permodalan maupun likuiditas perbankan," ujar Dian Ediana Rae.
Ancaman utama yang dicermati adalah potensi gangguan pada jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz. Gangguan pada jalur pelayaran krusial tersebut diprediksi akan memicu kenaikan harga komoditas energi secara global.
"Nah, tetapi, ini tentu yang paling perlu kita perhatikan adalah bahwa sistem perekonomian yang terbuka atau open economy dewasa itu tentu menjadikan kondisi ekonomi Indonesia itu sangat dipengaruhi oleh situasi dan ketidakpastian yang terjadi secara global ya. Dan kita tahu persis bahwa konflik ini berdampak signifikan terhadap situasi apa namanya geopolitikal dan geoekonomi secara global," jelas Dian Ediana Rae.
Kenaikan harga energi global akan berimbas pada kenaikan harga bahan bakar dan biaya distribusi barang, termasuk bahan baku dan pangan, sehingga mendorong inflasi domestik. Tekanan inflasi ini berisiko menyebabkan kebijakan moneter yang lebih ketat, yang dapat menekan daya beli masyarakat.
"Nah kemudian kita juga sama-sama menyadari bahwa jalur distribusi energi global yang terganggu akibat penutupan Selat Hormuz, ini sebagai jalur utama ya, berpotensi juga mendisrupsi harga komoditas energi. Nah, selanjutnya tentu kenaikan harga energi global itu dapat mendorong kenaikan harga bahan bakar dan biaya distribusi barang, termasuk tentu saja bahan baku dan pangan," paparnya.