TREN.BISNISMARKET.COM - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong percepatan implementasi program campuran bensin dengan bioetanol 20% atau E20 sebagai agenda strategis nasional pasca keberhasilan pemerintah menerapkan program biodiesel B50 secara penuh per 1 Juli 2026.
Langkah ini dipandang krusial oleh BRIN untuk memperkuat sistem energi nasional menuju keberlanjutan dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil impor.
Kepala BRIN, Arif Satria, menekankan bahwa pengembangan bioetanol E20 menjadi pijakan penting setelah B50 untuk membangun fondasi energi yang lebih ramah lingkungan bagi Indonesia.
"Saya kira ini sebuah ikhtiar kita untuk membangun kekuatan transisi energi yang baik. Kemudian tidak hanya B50, kita seharusnya sudah mulai masuk ke depan menjadi E20," beber Arif saat ditemui di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) pada Senin (6/7/2026).
Arif Satria menggarisbawahi urgensi implementasi E20 mengingat tantangan perubahan iklim global yang menuntut adanya respons berupa pengembangan energi bersih.
Menurutnya, energi bersih merupakan jawaban atas krisis iklim, dan pengembangan bioetanol sejalan dengan upaya mencapai clean production di sektor energi nasional.
"Yang kita cari adalah negara yang menciptakan green energy karena perubahan iklim ini harus direspons dengan kemampuan kita untuk menghasilkan produk-produk yang bersih, dan ini bagian dari clean production, energi bersih" paparnya.
Program E20 sendiri melibatkan pencampuran bensin dengan 20% bioetanol yang bersumber dari bahan baku nabati lokal seperti tebu, singkong, atau jagung, yang dinilai efektif menekan emisi karbon.
Implementasi E20, bersama dengan B50, merupakan bagian integral dari strategi besar pemerintah untuk mewujudkan kemandirian energi nasional dan memperkuat ketahanan energi domestik di masa depan.