TREN.BISNISMARKET.COM - Perdagangan bursa Asia-Pasifik pada Rabu (2/7/2026) dibuka dengan pergerakan yang bervariasi di tengah tekanan pelemahan nilai tukar yen Jepang terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi ini terjadi saat para pelaku pasar bersiap mencermati berbagai rilis data ekonomi penting hari itu dan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.

Penyebab utama fluktuasi ini adalah terkoreksinya yen Jepang yang menyentuh level 162,28 per dolar AS berdasarkan data LSEG, melanjutkan tren depresiasi dari sesi sebelumnya. Investor kini mulai waspada terhadap kemungkinan otoritas moneter Jepang melakukan intervensi untuk menstabilkan mata uang mereka.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 justru menunjukkan respons positif, menguat sebesar 1,79% pada pembukaan perdagangan pagi hari. Sementara itu, indeks Topix yang lebih luas juga ikut menguat, tercatat naik tipis 1,07% pada saat yang bersamaan.

Situasi berbeda terlihat di bursa Korea Selatan, di mana indeks Kospi berhasil menguat signifikan sebesar 1,52%. Namun, indeks saham berkapitalisasi kecil, Kosdaq, justru mengalami koreksi negatif dengan pelemahan tipis 0,05% pada sesi pagi.

Sementara itu, pasar saham Australia menunjukkan stabilitas relatif, bergerak mendekati zona datar. Indeks acuan S&P/ASX 200 tercatat mengalami penurunan sangat kecil, yakni 0,05% pada awal perdagangan hari itu.

Sentimen pasar global juga dipengaruhi oleh kinerja bursa Amerika Serikat, di mana kontrak berjangka Dow Jones melemah pada perdagangan Selasa malam waktu setempat. Pelemahan ini terjadi setelah indeks Dow Jones sebelumnya mencatatkan kinerja paruh pertama tahun terbaiknya dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

Melihat prospek jangka panjang memasuki paruh kedua tahun ini, Paul Hickey, Co-Founder Bespoke Investment Group, menilai sektor semikonduktor masih menjanjikan. Meskipun demikian, ia mengingatkan bahwa kenaikan harga saham sektor tersebut belakangan ini mulai membuat valuasi terlihat terlalu tinggi.

Paul Hickey juga menyoroti bahwa tren kenaikan pasar saat ini sangat didorong oleh narasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, ia berpendapat bahwa saham teknologi dan semikonduktor tidak perlu terus menunjukkan kinerja luar biasa secara konsisten untuk mempertahankan momentum kenaikan pasar secara keseluruhan.

"Sebagian saham semikonduktor telah mengalami kenaikan yang cukup signifikan dan mulai berada di area yang terlalu tinggi," ujar Paul Hickey, menyarankan bahwa investor mungkin perlu mengambil jeda sejenak sebelum kembali meningkatkan porsi investasi pada sektor tersebut.