TREN.BISNISMARKET.COM - Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dilaporkan sedang mengambil langkah signifikan untuk memperkuat hubungan dagang dengan kawasan Eurasia, khususnya Rusia dan Belarus. Langkah konkret yang ditempuh adalah penyusunan Surat Presiden (Supres) yang akan segera dikirimkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Hal ini disampaikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto dalam acara Indonesian-Belarusian Business Forum yang berlangsung pada Selasa, 30 Juni 2026. Forum bisnis ini diselenggarakan oleh Kamar Dagang dan Industri (KADIN) kedua negara sebagai wadah penjajakan peluang kerja sama.
Airlangga Hartarto mengonfirmasi bahwa Supres tersebut sedang dalam proses persiapan oleh Presiden untuk mendorong DPR segera melakukan ratifikasi perjanjian dagang tersebut menjadi undang-undang. Targetnya adalah agar Indonesia dapat menyusul Rusia dan Belarus yang telah lebih dulu meratifikasi kesepakatan perdagangan bebas ini sejak akhir tahun 2025.
"Indonesia berjanji untuk melakukan ratifikasi dalam tahun ini. Saya pikir Presiden tengah menyiapkan surat ke parlemen untuk meratifikasi perjanjian dagang EAEU. Jadi, ini adalah fase baru untuk Indonesia dan EAEU," terang Airlangga Hartarto di Hotel Aryaduta, Jakarta, pada hari Selasa (30/6/2026).
Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) ini bertujuan untuk memperluas akses pasar ekspor kedua belah pihak. Pemberlakuan tarif bea masuk 0% untuk sekitar 90% produk Indonesia yang masuk ke kawasan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) menjadi daya tarik utama, begitu pula sebaliknya.
Kawasan EAEU mencakup negara-negara anggota seperti Armenia, Belarus, Kazakhstan, Kirgistan, dan Rusia, yang kini akan menikmati tarif preferensial dengan Indonesia. Ditekankan bahwa hubungan dagang bilateral antara Indonesia dan Belarus khususnya memiliki sifat saling melengkapi dalam berbagai sektor.
Kerja sama kedua negara mencakup area perdagangan, investasi, industri, pertanian, transportasi, hingga teknologi. Dalam konteks perdagangan, FTA dengan Belarus akan membuka pasar ekspor Indonesia untuk komoditas seperti kakao, karet, obat-obatan medis, makanan laut (seafood), serta kopi.
Sebaliknya, kemudahan impor bagi Indonesia mencakup mesin industri pertanian, angkutan, serta alat berat untuk sektor pertambangan. Airlangga mencatat potensi besar dalam pengadaan dump truck dari Belarus mengingat produksi batu bara Indonesia yang mencapai 800 juta ton per tahun.
Selain itu, kerja sama dalam sektor kelapa sawit, dengan ekspor tahunan mencapai 50 juta ton, diharapkan berfokus pada modernisasi alat pertanian dan penguatan industri dalam negeri. "Ini adalah dua sektor dengan prioritas tertinggi di perekonomian Indonesia," ujar Airlangga Hartarto.