TREN.BISNISMARKET.COM - Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) baru-baru ini mengeluarkan peringatan penting mengenai potensi munculnya fase baru El Nino dalam beberapa minggu mendatang.
Kondisi cuaca ekstrem ini menjadi perhatian serius karena Indonesia dipetakan berada dalam kawasan dengan risiko tinggi terhadap kekeringan pertanian yang dapat mengancam ketahanan pangan nasional.
Dalam analisis terbaru mereka, FAO menyoroti bahwa risiko kekeringan tertinggi diperkirakan terkonsentrasi di beberapa wilayah strategis di dunia, termasuk Sahel Afrika, Afrika bagian selatan, Asia Selatan, Asia Tenggara, serta Koridor Kering Amerika Tengah dan Karibia.
FAO mengindikasikan bahwa di sejumlah wilayah yang disebutkan tersebut, potensi terjadinya kekeringan pada lahan pertanian dan padang penggembalaan diperkirakan memiliki probabilitas melebihi angka 50 persen.
Pemetaan risiko ini disusun menggunakan sistem Agricultural Stress Index System (ASIS), yang menganalisis data citra satelit historis selama 41 tahun untuk memprediksi dampak ENSO (El Niño Southern Oscillation) kuat terhadap sektor pertanian.
Banyak wilayah yang kini kembali teridentifikasi berisiko tinggi merupakan area yang sebelumnya telah mengalami dampak signifikan selama peristiwa El Nino pada periode 2015–2016 dan juga 2023–2024.
Siklus El Nino sebelumnya telah menimbulkan dampak luas, mulai dari gagal panen, kematian ternak, peningkatan utang rumah tangga, hingga perpindahan penduduk akibat krisis air dan pangan yang meluas.
Sebagai ilustrasi dampak masa lalu, pada episode El Nino 2015–2016, lebih dari 60 juta orang terdampak, yang kemudian memicu kebutuhan bantuan kemanusiaan dengan total nilai sekitar US$5 miliar di 23 negara.
Kepala Sumber Daya Alam FAO, Jorge Alvar-Beltrán, menekankan bahwa ancaman El Nino kali ini berpotensi lebih besar karena terjadi saat suhu rata-rata global sudah berada pada level yang lebih tinggi dibandingkan siklus sebelumnya.