TREN.BISNISMARKET.COM - Pergerakan pasar keuangan domestik Indonesia masih menghadapi tantangan signifikan, terutama terkait dengan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat. Kondisi ini terjadi seiring dengan adanya aliran dana keluar (outflow) yang berlanjut dari pasar keuangan nasional.

Pada perdagangan hari Senin, 06 Juli 2026, nilai tukar Rupiah terpantau berada pada posisi Rp 17.985 per Dolar AS. Fluktuasi ini menambah tekanan bagi stabilitas pasar keuangan secara keseluruhan dalam jangka pendek.

Di tengah dinamika tersebut, Investment Director Sucor Asset Management, Dimas Yusuf, memberikan pandangan optimis mengenai prospek jangka panjang. Ia menyoroti bahwa kondisi saat ini justru membuka peluang menarik bagi investor yang memiliki horizon waktu panjang.

Dimas Yusuf mengemukakan bahwa potensi masuknya kembali dana asing (net buy) ke pasar saham dan pasar obligasi Indonesia mulai menunjukkan perbaikan signifikan. Hal ini didasari oleh beberapa faktor fundamental pasar.

Salah satu faktor pendorong adalah tingginya imbal hasil atau yield obligasi yang ditawarkan saat ini. Ditambah lagi, proyeksi inflasi jangka panjang di Indonesia dinilai cukup terkendali, menjadikannya aset yang menarik.

"Potensi net buy asing di pasar saham dan pasar obligasi saat ini sudah semakin membaik dengan yield obligasi yang sangat tinggi dengan proyeksi inflasi jangka panjang cukup terjaga," ujar Dimas Yusuf.

Kemudian, Dimas Yusuf juga mengomentari posisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tengah berada dalam level yang relatif rendah jika dibandingkan dengan indeks sejenis di kawasan Asia Pasifik. Kondisi valuasi ini dianggap sangat menarik.

Ia menekankan bahwa level IHSG saat ini dapat dimanfaatkan sebagai titik masuk (entry point) yang strategis bagi para investor yang berorientasi jangka panjang. Hal ini mencerminkan pandangan bahwa aset domestik sedang dihargai lebih murah.

"Di sisi pasar saham, posisi IHSG saat ini merupakan indeks yang paling murah di level Asia Pasifik sehingga bisa menjadi entry point bagi investor jangka panjang," tambah Dimas Yusuf.