TREN.BISNISMARKET.COM - Harga minyak sawit mentah (CPO) di bursa Malaysia menunjukkan tren penguatan signifikan pada perdagangan akhir pekan. Penguatan ini didorong oleh peningkatan kinerja ekspor minyak sawit Malaysia serta ekspektasi lonjakan permintaan dari India menjelang periode perayaan.
Kontrak CPO untuk pengiriman bulan September sempat mencapai level tertinggi 4.632 ringgit per ton. Meskipun sempat turun sedikit dan diperdagangkan di kisaran 4.597 ringgit per ton saat jeda siang, penguatan kumulatif sepanjang tahun berjalan ini sudah mencapai sekitar 14%.
Penguatan harga ini berbanding lurus dengan data terbaru mengenai kinerja ekspor Malaysia. Menurut catatan dari Intertek Testing Services, volume ekspor minyak sawit Malaysia dalam 25 hari pertama bulan Juni tercatat meningkat sekitar 11% dibandingkan periode yang sama pada bulan sebelumnya.
Legalitas Digital Bisnis: Pelaku Usaha Wajib Kantongi NIB, Pemerintah Jelaskan Kepastian Pajak
Lembaga survei independen lain, Amspec Agri, juga melaporkan kenaikan volume ekspor dengan besaran yang relatif serupa dengan temuan Intertek. Peningkatan pengiriman ini disebut menjadi salah satu pilar utama yang menopang kenaikan harga komoditas tersebut.
Peningkatan signifikan dalam pengiriman minyak sawit ini terutama tertuju ke India, yang dikenal sebagai salah satu importir minyak nabati terbesar di dunia. Permintaan dari India diproyeksikan akan terus meningkat dalam beberapa bulan mendatang karena negara tersebut sedang mempersiapkan diri menghadapi musim festival yang akan memuncak pada perayaan Diwali di bulan November.
Dilansir dari The Edge, Wakil Presiden Patanjali Foods Ltd., Aashish Acharya, mengungkapkan pandangannya mengenai peningkatan konsumsi di India. "Konsumsi minyak sawit di India juga diperkirakan meningkat dalam jangka pendek setelah pemerintah melonggarkan pembatasan pasokan gas minyak cair (LPG) non-domestik yang sebelumnya diberlakukan akibat konflik di Timur Tengah," ujar Aashish Acharya.
Normalisasi pasokan LPG di India diperkirakan akan memicu peningkatan aktivitas di sektor perhotelan dan restoran. Hal ini secara langsung akan mendorong peningkatan permintaan terhadap berbagai produk minyak goreng, termasuk minyak sawit.
Selain faktor permintaan, sentimen harga juga ditopang oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan produksi di masa mendatang. Pasar mulai mencemaskan dampak fenomena Super El Niño yang diperkirakan akan melanda wilayah Asia Tenggara, termasuk negara produsen utama.
Analis Senior Fastmarkets Palm Oil Analytics, Sathia Varqa, menyoroti kombinasi faktor yang menopang harga CPO saat ini. "Kombinasi kinerja ekspor yang kuat dan premi risiko cuaca menjadi faktor utama yang menopang harga CPO," kata Sathia Varqa.