TREN.BISNISMARKET.COM - Fenomena hilangnya barcode MyPertamina dari aplikasi maupun situs web mendadak menjadi perhatian pengguna BBM subsidi. Namun, hilangnya akses ini bukanlah sebuah kesalahan teknis atau bug, melainkan bagian dari langkah strategis Pertamina.

Perusahaan energi plat merah ini tengah melaksanakan "pembersihan besar-besaran" terhadap data kendaraan yang terdaftar dalam program Subsidi Tepat. Tujuannya adalah untuk memvalidasi ulang dan memastikan bahwa kuota Pertalite dan Biosolar benar-benar tersalurkan kepada pihak yang berhak.

Langkah tegas ini diambil sebagai respons atas maraknya temuan penyalahgunaan BBM bersubsidi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Ribuan liter bahan bakar minyak (BBM) subsidi dilaporkan telah disedot melalui praktik-praktik curang.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Pemasaran Regional PT Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, menjelaskan bahwa perbaikan sistem registrasi menjadi prioritas utama. "Selain melakukan pembinaan terhadap lembaga penyalur, kami juga melakukan perbaikan dari sistem dan registrasi pengguna atau validasi terhadap kendaraan yang ada di sistem Subsidi Tepat MyPertamina," ujar Eko saat Rapat Dengar Pertamina dengan Komisi XII DPR RI pada 22 Juli.

Pertamina mengklaim telah melakukan pembersihan data (cleansing) terhadap sekitar 1,5 juta kendaraan sejak program Subsidi Tepat diluncurkan. Proses ini mencakup perbaikan data yang tidak valid, perubahan identitas kendaraan, hingga verifikasi ulang secara menyeluruh.

Upaya pembersihan data ini juga merupakan tindak lanjut atas rekomendasi dari lembaga pengawas negara. "Kami sudah melakukan upaya-upaya untuk perbaikan. Ini juga menindaklanjuti arahan dan rekomendasi Irjen Kemenkeu maupun BPK untuk melakukan validasi atas data kendaraan," tambah Eko.

Selain proses validasi, Pertamina juga tidak ragu untuk memblokir akses bagi para pengguna yang terindikasi melakukan kecurangan. Sejak tahun 2023, tercatat hampir 307.000 kendaraan telah dikeluarkan dari sistem Subsidi Tepat akibat terbukti menyalahgunakan BBM bersubsidi.

"Setiap ada temuan di lapangan, hasil pengawasan yang dilakukan BPH Migas, aparat, maupun pengawasan internal kami di lembaga penyalur, kami melakukan blokir terhadap data yang dianggap fraud dan terbukti menyalahgunakan BBM PSO," tegas Eko.

Dengan kebijakan pengetatan ini, Pertamina berharap penyaluran BBM bersubsidi dapat berjalan lebih terkontrol dan tepat sasaran. Pengguna yang mendapati barcode MyPertamina mereka hilang disarankan untuk tidak panik.