TREN.BISNISMARKET.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengidentifikasi Sesar Kendeng sebagai salah satu zona patahan aktif dengan risiko kebencanaan tinggi di Pulau Jawa. Sesar ini membentang secara horizontal dari barat ke timur sepanjang kurang lebih 300 kilometer di kawasan utara pulau tersebut.
Struktur geologi Sesar Kendeng menjadi perhatian serius pemerintah karena rute sesar melintasi banyak wilayah perkotaan dengan populasi yang sangat padat. Ancaman ini membentang melintasi area padat penduduk di Jawa Tengah hingga Jawa Timur.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang, Ricko Kardoso, menekankan perlunya peningkatan kewaspadaan terhadap sesar ini untuk memitigasi potensi dampak guncangan di daratan. Ia menegaskan bahwa patahan ini memiliki bentangan luas dan membelah banyak kabupaten dan kota.
"Sesar Kendeng adalah salah satu zona sesar atau patahan aktif yang sangat diwaspadai di Pulau Jawa karena jalurnya yang padat penduduk," ujarnya, Dilansir dari Detik Jatim, dikutip Sabtu (20/6/2026).
Sesar Kendeng terbagi menjadi enam segmen utama, yaitu Segmen Demak, Purwodadi, Cepu, Blumbang (melintasi Lamongan), Segmen Surabaya (membelah jantung kota), dan Segmen Waru di Sidoarjo. Secara administratif, ancaman ini mencakup wilayah seperti Salatiga, Grobogan, Blora, Madiun, Nganjuk, Jombang, Bojonegoro, hingga Kota Surabaya.
Ricko Kardoso menjelaskan lebih lanjut mengenai cakupan geografis patahan tersebut. "Zona Sesar Kendeng melintang sepanjang kurang lebih 300 kilometer di bagian Utara Pulau Jawa, membentang dari selatan Semarang, Jawa Tengah hingga ke wilayah Jawa Timur," kata Ricko.
Berdasarkan pemutakhiran data Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) 2024, Sesar Kendeng kini digabungkan penamaannya dengan Sesar Baribis dan Sesar Semarang menjadi sistem Java Back-arc Thrust. Pemetaan ini menunjukkan potensi skenario terburuk dari aktivitas seismik di setiap segmennya.
"Magnitudo tertarget dalam Pusgen 2024 yang dimungkinkan terjadi sebagai skenario terburuk dari tiap segmen sesar aktif di segmen tersebut bervariasi Magnitudo enam sampai tujuh," papar Ricko.
Secara historis, struktur geologi ini memiliki pergerakan yang relatif lambat, yakni sekitar 5 milimeter per tahun, yang mengakibatkan periode ulang gempa besar menjadi cukup panjang. Meskipun aktivitas destruktif terparah tercatat pada tahun 1915, catatan sejarah mencatat gempa dahsyat M6 hingga M7 pernah terjadi pada 1836 dan 1837 di Mojokerto dan Jombang.