TREN.BISNISMARKET.COM - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai temuan cadangan emas dan mineral dalam jumlah "sangat besar" di Pegunungan Papua memunculkan optimisme baru di sektor pertambangan nasional. Namun, Institute For Development of Economics and Finance (Indef) mengingatkan agar publik mencermati klaim tersebut dengan hati-hati.
Keberadaan potensi harta karun alam di wilayah paling timur Indonesia ini memang telah lama menjadi sorotan. Namun, Indef menegaskan bahwa temuan awal hasil ekspedisi ilmiah belum dapat serta-merta dikategorikan sebagai cadangan yang siap untuk ditambang secara komersial.
Perjalanan dari indikasi mineral hingga menjadi tambang yang beroperasi penuh adalah proses yang panjang dan kompleks. Industri pertambangan memerlukan tahapan eksplorasi intensif, investasi besar, kepastian regulasi, serta penyelesaian isu-isu lingkungan dan sosial yang krusial.
Andry Satrio Nugroho, Head of Center of Industry, Trade and Investment Indef, menjelaskan bahwa istilah "cadangan" dalam industri pertambangan memiliki definisi teknis yang ketat. Definisi ini tidak bisa disimpulkan hanya berdasarkan hasil survei awal yang bersifat indikatif.
"Menurut saya klaimnya perlu diuji. Sepertinya bukan cadangan tetapi ada indikasi atau potensi karena informasi yang didapat berdasarkan survei. Kalau cadangan, maka harus dilakukan kegiatan eksplorasi yang teruji baru bisa disebut sebagai cadangan," ujar Andry Satrio Nugroho kepada Bisnis, Minggu (12/7/2026).
Wilayah Papua memang sejak lama dikenal memiliki kekayaan mineral yang melimpah. Sabuk tembaga dan emas di Pegunungan Tengah, yang membentang dari Papua Tengah hingga Papua Pegunungan dan berlanjut ke Papua Nugini, merupakan salah satu bukti nyata potensi tersebut.
Selain itu, Papua juga menyimpan potensi nikel laterit di sekitar Raja Ampat dan Pulau Gag, serta cadangan gas alam yang signifikan melalui proyek LNG Tangguh. Wilayah prospektif lainnya, seperti Blok Wabu yang sebelumnya dilepas oleh PT Freeport Indonesia pada tahun 2018, juga masih menunggu pengembangan optimal.
"Artinya, keberadaan potensi mineral di Papua bukanlah informasi baru. Tantangan sesungguhnya justru terletak pada bagaimana potensi tersebut dapat dikonversi menjadi produksi yang memberikan nilai tambah bagi negara," jelas Andry Satrio Nugroho.
"Masalah sebetulnya itu bukan di cadangan, tapi jika kita tambang di situ, dibutuhkan investasi besar," tutur Andry Satrio Nugroho.