TREN.BISNISMARKET.COM - Badan Pusat Statistik (BPS) tengah menggelar Sensus Ekonomi 2026 (SE2026), sebuah program pendataan berskala nasional yang bertujuan memotret seluruh aktivitas ekonomi Indonesia. Pelaksanaan ini dilakukan untuk mendukung perumusan kebijakan strategis yang lebih tepat sasaran dan memberikan gambaran terkini mengenai tren serta isu ekonomi tanah air.
Kegelisahan masyarakat, seperti yang diungkapkan oleh Farasya, seorang pengusaha kecil di Semarang, Jawa Tengah, muncul akibat informasi simpang siur di media sosial mengenai petugas sensus. Kekhawatiran akan adanya petugas gadungan menjadi sorotan, sehingga penting bagi masyarakat untuk mengetahui ciri-ciri petugas yang resmi.
Petugas sensus di lapangan menghadapi berbagai tantangan, termasuk keengganan warga untuk menjawab pertanyaan. Andari, seorang petugas di Boyolali, Jawa Tengah, mengakui adanya penolakan dari masyarakat yang terpengaruh berita negatif di media sosial. Ia menegaskan bahwa petugas hanya menjalankan tugas sesuai prosedur dan berharap disambut baik oleh responden.
"Sebenarnya kami hanya menjalankan tugas dan tidak menanyakan pertanyaan tidak masuk akal, sebagaimana yang beredar. Kami [petugas] sangat senang jika responden menyambut kami," ujar Andari kepada Bisnis, Jumat (10/7/2026).
Padahal, data yang dikumpulkan melalui SE2026 sangat vital bagi berbagai pihak, mulai dari pelaku usaha, peneliti, hingga pemerintah. Data ini akan menjadi rujukan utama dalam memahami struktur ekonomi, potensi pasar, serta peluang pembiayaan dan program bantuan bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Ade, seorang pelaku usaha mikro di Jakarta Pusat, menceritakan pengalamannya yang positif saat didata oleh petugas SE2026. Ia menyampaikan bahwa proses pendataan berlangsung sekitar 15 hingga 20 menit dengan pertanyaan seputar lama usaha, modal, pendapatan, dan jumlah karyawan.
"Proses sensus sekitar 15 menit hingga 20 menit. Ditanya seperti sudah berapa lama berusaha, berapa modalnya, pendapatan, hingga apakah ada karyawan atau tidak. [Tinggal] dijawab saja," ujarnya.
SE2026 kali ini memiliki keistimewaan karena pertama kalinya mencakup usaha digital dan ekonomi gig, mencerminkan dinamisnya lanskap bisnis Indonesia yang kian berkembang di era digital. Transaksi digital yang masif dan perubahan pola belanja masyarakat dari konvensional ke daring menjadi fokus pendataan.
Kementerian Komunikasi dan Digital Indonesia (Komdigi) memproyeksikan nilai ekonomi digital Indonesia melampaui US$360 miliar pada 2030, dengan sektor e-commerce berkontribusi sekitar US$150 miliar. Indonesia pun telah menjadi ekonomi digital terbesar di ASEAN.