TREN.BISNISMARKET.COM - Harga emas batangan dari PT Aneka Tambang Tbk (Antam) diprediksi akan mengalami fluktuasi signifikan dalam sepekan mendatang, dengan rentang pergerakan yang diperkirakan berada antara Rp2.650.000 hingga Rp2.900.000 per gram. Proyeksi ini sangat bergantung pada sentimen pasar global serta perkembangan nilai tukar mata uang domestik.

Pergerakan harga ini dikaji oleh pengamat pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi, yang mencatat bahwa pada penutupan hari Sabtu, harga emas Antam berada di level Rp2.773.000 per gram. Analisis ini memberikan panduan bagi para investor mengenai titik support dan resistensi yang perlu diperhatikan.

Ibrahim Assuaibi menggariskan batas bawah jika terjadi koreksi harga pada emas Antam. "Jika turun, support pertama di Rp 2.753.000 per gram. Support kedua di Rp 2.650.000 per gram," ungkap Ibrahim dalam keterangannya pada Minggu, 24 Mei 2026.

Sementara itu, untuk potensi kenaikan harga, analis juga telah menetapkan target batas atas yang harus diwaspadai oleh pelaku pasar. "Jika harga komoditas ini mengalami kenaikan, target batas atas pertama berada di angka Rp 2.797.000 per gram pada Senin depan. Sementara itu, untuk proyeksi sepekan ke depan hingga Sabtu, batas atas kedua diperkirakan mencapai Rp 2.900.000 per gram," jelas Ibrahim.

Dinamika harga logam mulia ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik internasional yang sedang memanas. Ketegangan yang masih berlanjut di kawasan Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina menjadi salah satu pemicu utama dalam pergerakan harga komoditas global.

Selain itu, situasi di Timur Tengah juga menambah ketidakpastian pasar, terutama dengan adanya serangan yang dilancarkan oleh Israel ke wilayah Lebanon Selatan dan Jalur Gaza. Perkembangan lain yang memengaruhi adalah pernyataan Donald Trump mengenai nota kesepahaman perdamaian dengan Iran yang berpotensi membuka Selat Hormuz.

Dari sisi kebijakan moneter Amerika Serikat, pasar tengah mencermati pernyataan Presiden Federal Reserve, Thomas Barkin. Bank Sentral AS dinilai berada dalam posisi ideal untuk menjaga ekspektasi inflasi jangka panjang sambil mengantisipasi guncangan ekonomi yang mungkin terjadi.

Meskipun mayoritas pejabat moneter AS cenderung ingin mempertahankan suku bunga tinggi, Thomas Barkin memberikan sinyal optimis mengenai kemungkinan pelonggaran kebijakan. "Penurunan suku bunga acuan berpeluang dilakukan pada akhir tahun ini apabila inflasi jangka panjang tetap terkendali," ujar Thomas Barkin.

Faktor domestik yang turut menjadi perhatian adalah fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Ibrahim menilai bahwa pelemahan mata uang garuda saat ini bukanlah akibat kesalahan teknis dari sisi kebijakan moneter Bank Indonesia, melainkan berakar pada persoalan struktural ekonomi.