TREN.BISNISMARKET.COM - Ambisi besar CEO Meta, Mark Zuckerberg, untuk mendominasi lanskap kecerdasan buatan (AI) tampaknya belum membuahkan hasil signifikan bagi investor. Upaya agresif Meta sepanjang tahun lalu, termasuk akuisisi bernilai fantastis, belum mampu mendongkrak kepercayaan pasar.
Salah satu langkah paling mencolok adalah pengeluaran dana sebesar US$14 miliar, setara dengan sekitar Rp 248 triliun, untuk mengakuisisi perusahaan rintisan AI. Selain itu, Meta juga berhasil merekrut Alexandr Wang, eks CEO dari perusahaan yang diakuisisi tersebut.
Alexandr Wang, sosok berusia 29 tahun, didatangkan ke Meta tahun lalu untuk memimpin Meta Superintelligence Labs. Momentum penting terjadi pada bulan April ketika Wang meluncurkan model AI terobosan bernama Muse Spark, menandai langkah Meta menuju model dasar AI yang bersifat kepemilikan (proprietary).
Meskipun telah melakukan manuver besar, upaya Meta dalam pengembangan AI ini belum berhasil memuaskan para pemegang saham. Tercatat bahwa saham Meta, perusahaan induk dari Instagram dan Facebook, mengalami penurunan sebesar 18% selama periode 12 bulan terakhir.
Dilansir dari CNBC Internasional pada Senin (15/6/2026), permasalahan utama Meta diyakini bermula dari kesalahan strategis dalam pendekatan mereka terhadap industri AI. Perusahaan memilih jalur sumber terbuka (open source) melalui model Llama mereka.
Pendekatan sumber terbuka ini memungkinkan komunitas pengembang melakukan eksperimen secara luas, namun berbeda dengan para pesaing utama yang menerapkan model akses berbayar untuk model AI besar mereka. Langkah ini menjadi pembeda signifikan dalam ekosistem persaingan AI.
Kegagalan peluncuran model Llama 4 tahun lalu juga menjadi catatan buruk yang terjadi dua bulan sebelum Zuckerberg memutuskan untuk mengakuisisi Scale AI dan membawa Wang beserta jajaran eksekutif kunci lainnya. Ini menunjukkan adanya gejolak internal dalam peta jalan pengembangan produk.
Model Muse Spark yang dirilis Wang dirancang secara spesifik untuk terintegrasi erat ke dalam ekosistem Meta, termasuk platform seperti Facebook, Instagram, serta perangkat keras kacamata Ray Ban Meta. Integrasi ini diharapkan dapat meningkatkan nilai produk Meta secara keseluruhan.
Thomas Randall, seorang analis dari Info-Tech Research Group, menekankan pentingnya konsistensi dalam pengembangan model kepemilikan bagi Meta. "Akan ada banyak penyedia model yang akan berubah secara fundamental dalam banyak hal, dan Meta perlu punya model kepemilikan yang konsisten dan andal," ujar Thomas Randall.