TREN.BISNISMARKET.COM - Jakarta, CNBC Indonesia – Regulator keuangan internasional telah mengeluarkan peringatan serius mengenai potensi munculnya ancaman baru dalam sistem keuangan global akibat masifnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) menuju otomatisasi penuh.
Peringatan ini dikeluarkan setelah adanya kekhawatiran mengenai risiko yang ditimbulkan oleh implementasi AI yang semakin cepat di sektor perbankan dan keuangan secara umum.
Badan Stabilitas Keuangan (FSB), sebuah badan internasional yang didukung oleh G20, secara eksplisit mendorong semua pemangku kepentingan untuk segera mempertimbangkan penerapan langkah-langkah pengamanan khusus. Dorongan ini muncul seiring dengan percepatan adopsi teknologi AI, termasuk jenis yang dikenal sebagai 'Agentic AI'.
Agentic AI merupakan sistem kecerdasan buatan yang memiliki kemampuan untuk merencanakan, bernalar, dan mengeksekusi tugas-tugas tertentu dengan minimnya intervensi atau pengawasan langsung dari manusia.
Dilansir dari Reuters, Kamis (11/6/2026), regulator global meminta agar sistem keuangan di seluruh dunia segera mengadopsi kerangka pengawasan baru guna mengantisipasi potensi gejolak dari teknologi ini.
Saat ini, perusahaan-perusahaan di sektor keuangan telah mulai mengimplementasikan Agentic AI untuk berbagai fungsi krusial, seperti meningkatkan deteksi penipuan, mengelola sistem layanan konsumen, serta menjalankan operasional back-office.
Survei yang dilaksanakan oleh Cambridge Centre for Alternative Finance menunjukkan tingginya minat sektor keuangan terhadap teknologi ini, di mana 52% responden melaporkan telah aktif mengadopsi Agentic AI. Sebanyak 23% responden sedang dalam proses transformasi dan perluasan penggunaan teknologi tersebut, sementara 29% lainnya baru akan memulai adopsi.
Para ahli dan badan penetapan standar global telah meningkatkan kewaspadaan sejak perilisan model AI canggih seperti Mythos dari Anthropic, yang dinilai membawa tantangan keamanan siber signifikan bagi industri perbankan.
FSB, yang selama ini berperan sebagai lembaga penentu standar sistem keuangan dunia, menegaskan bahwa otomatisasi AI dapat memicu risiko besar, termasuk potensi munculnya tindakan ilegal, kebocoran data sensitif, dan gangguan serius pada sistem yang saling terkoneksi.