TREN.BISNISMARKET.COM - Center of Reform on Economics (CORE) memprediksi bahwa nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat akan bergerak di kisaran Rp17.500 hingga Rp18.000. Angka ini diperkirakan akan menjadi level keseimbangan baru dalam kurun waktu jangka pendek hingga menengah.
Proyeksi ini didasarkan pada kajian CORE Monthly Review edisi Juli 2026. Lembaga riset ekonomi tersebut mencatat bahwa pergerakan Rupiah sempat kembali mendekati angka Rp18.000 pada awal Juli 2026.
"Pergerakan rupiah yang kembali mendekati Rp18.000 pada awal Juli mengonfirmasi bahwa kisaran Rp17.500-Rp18.00 telah menjadi level keseimbangan baru dalam jangka pendek-menengah," demikian bunyi kutipan dari kajian CORE yang dirilis Minggu (12/7/2026).
Proyeksi pergerakan Rupiah dalam rentang tersebut tetap berlaku meskipun Bank Indonesia (BI) telah mengambil kebijakan moneter yang agresif. Langkah-langkah tersebut meliputi kenaikan suku bunga acuan dan intervensi di pasar keuangan.
Sepanjang Juni 2026, Bank Indonesia telah meningkatkan suku bunga acuan sebesar total 50 basis poin. Kenaikan ini membawa suku bunga acuan dari 5,25% pada Mei 2026 menjadi 5,75% pada Juli 2026.
Salah satu kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin bahkan diputuskan di luar jadwal reguler Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI. Kebijakan yang diambil melalui RDG Mingguan pada 9 Juni 2026 ini merupakan yang pertama kali dilakukan BI dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Pelemahan nilai tukar Rupiah ini juga dipengaruhi oleh gejolak yang terjadi di pasar keuangan. Meskipun terdapat aliran masuk dana (inflow) di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Surat Berharga Rekapitalisasi BI (SRBI), pasar saham masih terus mengalami tekanan yang kian mendalam.
Berdasarkan kajian CORE, transaksi investor asing pada Juni 2026 mencatat net sell atau penjualan bersih sebesar Rp23,19 triliun. Angka ini mengalami peningkatan sebesar Rp3,75 triliun dibandingkan bulan sebelumnya, menjadikannya tekanan jual bulanan terbesar sepanjang tahun 2026.
"Tingginya aksi jual investor asing tersebut utamanya dipengaruhi oleh kekhawatiran atas kondisi perekonomian yang mulai terlihat memburuk di bulan Juni, yang kemudian terkonfirmasi dari neraca dagang yang negatif, PMI Manufaktur Indonesia yang terkontraksi, serta tingkat inflasi yang kembali menanjak," jelas CORE.