TREN.BISNISMARKET.COM - Rupiah berhasil ditutup menguat tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat, 17 Juli 2026. Penguatan ini membawa nilai tukar rupiah ke posisi Rp17.885 per dolar AS.
Data Refinitiv mencatat bahwa penguatan rupiah mencapai 0,53%, menjadikannya level terkuat dalam kurun waktu lebih dari dua pekan sejak 30 Juni 2026. Posisi ini juga menjauhkan rupiah dari ambang batas psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Sejak awal perdagangan, mata uang Garuda secara konsisten bergerak di zona hijau. Rupiah dibuka pada angka Rp17.980 per dolar AS dan terus menunjukkan tren penguatan hingga akhir sesi perdagangan.
Bersamaan dengan penguatan rupiah, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia dilaporkan mengalami pelemahan.
Pada pukul 15.00 WIB, indeks dolar AS terkoreksi 0,07% dan berada di posisi 100,695. Pelemahan ini sejalan dengan tren penguatan rupiah di pasar domestik dan global.
Penguatan rupiah ini dipicu oleh beberapa faktor, salah satunya adalah perlambatan laju inflasi di Amerika Serikat. Data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan pasar berhasil meredakan kekhawatiran mengenai potensi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.
Meskipun data ekonomi AS lainnya menunjukkan kekuatan perekonomian, terutama pada sektor tenaga kerja yang stabil, para ekonom memprediksi The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan Juli ini. Hal ini disebabkan oleh meredanya inflasi konsumen AS pada bulan Juni.
Pejabat The Fed masih menunjukkan sikap kehati-hatian terkait perbaikan inflasi yang baru terlihat selama satu bulan terakhir, mengingat sebelumnya inflasi sempat bergerak naik. Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson bahkan membuka kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi tidak menunjukkan perbaikan lebih lanjut.
"Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga apabila inflasi tidak menunjukkan perbaikan lebih lanjut," ujar seorang pengamat pasar keuangan.