TREN.BISNISMARKET.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan performa positif dengan melesat 1,1% atau 67,32 poin pada penutupan perdagangan Jumat, 17 Juni 2026. Penguatan ini menempatkan IHSG di level 6.173,53.
Pergerakan pasar pada hari itu ditandai dengan dominasi emiten di zona hijau, di mana tercatat 363 saham menguat, 274 melemah, dan 328 stagnan. Kondisi ini menunjukkan sentimen positif yang meluas di kalangan investor.
Pasar saham pada Jumat ini juga terpantau lebih ramai dibandingkan hari-hari sebelumnya. Total nilai transaksi tercatat mencapai Rp 16,32 triliun, melibatkan 24,04 miliar saham dalam 1,99 juta kali transaksi.
Sebelumnya, nilai transaksi pasar saham harian seringkali kesulitan menembus angka Rp 15 triliun, dengan rata-rata transaksi berkisar di Rp 10 triliun. Kenaikan volume transaksi ini menandakan peningkatan aktivitas dan minat investor.
Sektor finansial menjadi tulang punggung penguatan IHSG, mencatatkan kenaikan sebesar 3,2%. Keberhasilan sektor ini didukung oleh kontribusi signifikan dari emiten bank jumbo seperti Bank Central Asia (BBCA), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Mandiri (BMRI), dan Bank Negara Indonesia (BBNI).
Keempat emiten perbankan tersebut secara kolektif menyumbang 54,7 poin terhadap penguatan IHSG pada hari itu. Hal ini menegaskan peran krusial sektor perbankan dalam pergerakan indeks.
Analis Panin Sekuritas, Elandry Pratama, menjelaskan bahwa penguatan saham perbankan belakangan ini merupakan kombinasi dari beberapa faktor. "Menurutnya, sektor perbankan sedang mengalami technical rebound setelah sebelumnya mendapat tekanan cukup signifikan sehingga investor mulai kembali melakukan akumulasi, terutama pada saham bank besar yang memiliki fundamental dan likuiditas tinggi,".
Elandry menambahkan bahwa tekanan arus keluar dana asing (foreign outflow) yang mulai terbatas memberikan ruang bagi investor untuk kembali memasuki saham-saham perbankan besar. "Kondisi tersebut memberikan ruang bagi investor untuk kembali masuk ke saham-saham big caps perbankan dan memperbaiki sentimen pasar,".
Dari sisi fundamental, Elandry melihat potensi katalis tambahan seperti ekspektasi perbaikan likuiditas, pemulihan pertumbuhan kredit, dan valuasi saham bank yang semakin menarik. "Ia juga menyebut sentimen terkait kebijakan High Shareholding Concentration (HSC) turut memberikan persepsi positif terhadap peningkatan transparansi dan kualitas pasar modal Indonesia,".