TREN.BISNISMARKET.COM - Nilai tukar rupiah dilaporkan mengalami pelemahan pada pembukaan perdagangan Kamis, 23 Juli 2026. Mata uang Garuda terdepresiasi 0,20% terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Rupiah tercatat dibuka pada posisi Rp17.910 per dolar AS. Pelemahan ini menghentikan tren positif yang sempat dicatatkan pada perdagangan sehari sebelumnya.
Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Rabu (22/7/2026), rupiah berhasil menguat tipis sebesar 0,06% dan ditutup di level Rp17.870 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang menjadi tolok ukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, justru menunjukkan pelemahan ringan. Pada pukul 09.00 WIB, DXY terpantau turun 0,07% ke angka 101,058.
Pergerakan nilai tukar rupiah pada pagi ini masih sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama. Keduanya adalah respons pelaku pasar terhadap hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) periode Juli dan perkembangan terbaru konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Dari dalam negeri, RDG BI yang berlangsung pada Selasa hingga Rabu (21-22/7/2026) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 5,75%. Keputusan ini juga berlaku untuk suku bunga Deposit Facility yang tetap di 4,75% dan Lending Facility yang dipertahankan pada 6,50%.
Keputusan BI untuk menahan suku bunga diambil setelah serangkaian kenaikan kumulatif sebesar 100 basis poin (bps) yang telah dilakukan sejak Mei 2026. Langkah ini bertujuan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global yang tinggi.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa pergerakan rupiah hingga pertengahan Juli 2026 masih dalam posisi yang terjaga.
"Dengan perkembangan tersebut, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS relatif stabil dibandingkan dengan level akhir Juni 2026 sebesar Rp17.880," ujar Perry Warjiyo.