TREN.BISNISMARKET.COM - Samsung berhasil mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin pasar smartphone global pada kuartal kedua tahun 2026. Dengan menguasai 24% pangsa pasar, perusahaan asal Korea Selatan ini menunjukkan pertumbuhan yang paling pesat di antara lima merek teratas, meskipun pasar smartphone global secara keseluruhan mengalami penurunan sebesar 11% dibandingkan tahun sebelumnya.

Keberhasilan Samsung ini didorong oleh beberapa faktor kunci. Ketersediaan produk yang optimal, kestabilan harga, serta strategi promosi yang agresif, khususnya di pasar India dan Timur Tengah, menjadi penopang utama. Permintaan tinggi terhadap seri Galaxy S26, terutama varian Ultra, juga turut berkontribusi signifikan berkat fitur inovatif seperti Privacy Display dan kemampuan kecerdasan buatan (AI) yang semakin canggih.

"Integrasi vertikal, perluasan portofolio AI, dan penyegaran jajaran produk, membantu Samsung mempertahankan pertumbuhan," demikian analisis terkait performa perusahaan dalam menghadapi pelemahan permintaan di segmen entry-level dan kelas menengah.

Di sisi lain, Apple menempati posisi kedua dengan pangsa pasar sebesar 20%, sebuah peningkatan dari 17% pada kuartal yang sama tahun sebelumnya. Pengiriman iPhone dilaporkan tumbuh 3% secara year-on-year (YoY), menjadikannya satu-satunya produsen besar yang tidak menaikkan harga perangkatnya selama periode tersebut.

Seri iPhone 17 menjadi tulang punggung pertumbuhan Apple di kuartal ini, sekaligus menjadi model smartphone dengan jumlah pengiriman tertinggi secara global. Namun, performa Apple di pasar Tiongkok masih menghadapi tekanan, dengan penurunan pengiriman YoY meskipun promosi festival belanja 618 telah digelar.

"Potongan harga yang diberikan tahun ini tidak seagresif promosi pada periode yang sama di 2025," ungkap sumber yang memahami situasi pasar Tiongkok, merujuk pada strategi promosi Apple.

Merek-merek Tiongkok seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo harus menghadapi kenyataan pahit dengan penurunan pengiriman yang signifikan. Ketiganya menempati posisi ketiga hingga kelima, namun mengalami penurunan dua digit secara YoY, terutama di segmen entry-level dan menengah.

Xiaomi, yang berada di urutan ketiga dengan pangsa pasar 12%, mengalami penurunan akibat kenaikan biaya komponen yang memengaruhi permintaan di segmen harga terjangkau. "Untuk menjaga volume pengiriman, Xiaomi merampingkan portofolio produknya dan melonggarkan skema pembiayaan bagi ritel," jelas seorang analis pasar.

Oppo dan Vivo juga merasakan dampak serupa. Oppo, di posisi keempat dengan 11% pangsa pasar, melihat pelemahan permintaan di berbagai pasar utamanya, meskipun seri A dan Reno Series berhasil menahan penurunan lebih dalam. Sementara Vivo, di posisi kelima dengan 8% pangsa pasar, menghadapi kendala pasokan dan kenaikan harga yang menggeser model utamanya keluar dari rentang harga yang diminati konsumen.