TREN.BISNISMARKET.COM - Pada perdagangan hari Senin, 18 Mei 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan signifikan dan terperosok ke zona merah. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 10.09 WIB mencatat IHSG ambles sedalam 256,37 poin atau setara dengan koreksi 3,81 persen, berada di posisi 6.466,95.

Tekanan jual yang masif ini sudah terasa sejak sesi preopening, di mana indeks saham domestik sempat merosot 94,344 poin atau 1,40 persen menuju level 6.628,98. IHSG sempat mencoba bertahan di level tertinggi 6.631,28 setelah dibuka pada 6.628,98, namun segera meluncur tajam ke titik terendah 6.428,93.

Aktivitas perdagangan tercatat cukup ramai dengan volume transaksi menembus 13,61 miliar saham yang menghasilkan total nilai transaksi mencapai Rp 7,77 triliun. Transaksi tersebut terjadi melalui frekuensi perdagangan sebanyak 1,152 juta kali di lantai bursa.

Kondisi pasar didominasi oleh koreksi saham secara kolektif, di mana sebanyak 703 saham mengalami pelemahan harga. Sementara itu, hanya 82 saham yang berhasil menguat, dan 174 saham lainnya terpantau bergerak stagnan.

Pelemahan IHSG ini diikuti oleh indeks-indeks sektoral utama lainnya di BEI, seperti Indeks LQ45 yang melemah 3,09 persen ke level 637,56, dan Jakarta Islamic Index (JII) yang anjlok 4,21 persen ke posisi 419,47. Indeks KOMPAS100 juga ikut terkoreksi sebesar 3,99 persen.

Penyebab utama tekanan pasar ini adalah dampak dari rebalancing indeks global, khususnya setelah keluarnya enam emiten Indonesia dari MSCI Global Standard Indexes yang berlaku efektif baru-baru ini. Keenam emiten tersebut adalah AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT.

Selain itu, tekanan psikologis investor semakin menguat menyusul peringatan keras dari FTSE Russell mengenai kebijakan baru terkait saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC). FTSE Russell berencana mengeliminasi saham kategori HSC dengan nilai nol, efektif mulai 22 Juni 2026.

FTSE Russell juga mengambil langkah menunda proses re-ranking indeks secara menyeluruh, termasuk penambahan emiten baru dan kenaikan free float hingga peninjauan berkala pada September 2026, memicu kekhawatiran akan potensi keluarnya dana asing.

Analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan bahwa pergerakan pasar saham dipengaruhi oleh kombinasi faktor domestik dan global, termasuk ketidakpastian yang masih dipantau dari sentimen geopolitik di Timur Tengah.